Tato; Antara Seni dan Gengsi

27
Sumber foto: Facebook Manou Dark tatoo

Belumtitik.com – Tato atau seni merajah tubuh merupakan bagian dari budaya masyarakat Polynesia, termasuk juga suku-suku di Nusantara. Suku Mentawai di Sumatera, Dayak di Kalimantan atau Moi di Papua merupakan suku-suku di Indonesia yang menggunakan tato sebagai bagian dari ritual adatnya. Bahkan tato Suku Mentawai ditengarai sebagai budaya tato tertua di dunia.

Merajah tubuh sudah menjadi budaya manusia jauh sebelum masehi. Baru-baru ini ilmuwan berhasil mengungkap adanya tato pada mumi yang berusia 1000 tahun, walaupun belum diketahui makna dari tato tersebut, tapi sedikitnya sudah memberikan jejak tentang tato pada peradaban manusia.

Pada zaman Romawi tato digunakan untuk menghukum atau menandai budaknya agar tidak hilang. Kemudian para pelaut-pelaut eropa zaman dulu menggunakan tato untuk memberikan tanda pada tubuhnya, dengan harapan jika suatu saat dirinya tidak selamat di lautan maka jenazahnya dapat dikenali dari tato.

Memasuki masa perang dunia kedua, beberapa kesatuan tentara Nazi menggunakan tato, yang dirajah di dekat ketiak, untuk menuliskan golongan darahnya. Selain untuk tentaranya, Nazi juga menggunakan tato untuk menandai kaum Yahudi di kamp konsentrasi.

Di Indonesia, para pemilik rajah tubuh pernah mengalami masa-masa kelam di warsa 70-80an. Masa tersebut dikenal istilah petrus (penembakan misterius). Di Bandung dan sekitarnya dikenal dengan istilah “dikarungan”. Mereka yang memiliki tato dan terindikasi perbuatan kriminal, kemungkinan besar akan menghilang dan baru ditemukan dalam karung dengan luka tembak di tubuh.

Namun sekarang, tato sudah bergeser menjadi gaya hidup. Banyak artis dengan rajah ditubuhnya tampil pada layar kaca hampir tiap hari. Dulu seorang chef yang ditabukan bertato karena alasan kebersihan, kini sudah jamak memiliki tato, bahkan salah satu menteri Jokowi pun ada yang memiliki tato.

Baca Juga  Mengenal Batu Aceh di Semenanjung Malaysia

Dari bentuk dan posisi tatonya, sedikit banyak bisa dikenali tujuan seseorang memilikinya. Paling mudah mengenali tujuan orang bertato itu dari warna tatonya. Jika tato yang dibuat memiliki warna dan pola artistik yang jelas, maka dapat disimpulkan pemilik tato itu memang mengenal dan menyukai seni merajah tubuh.

Biasanya orang seperti ini akan memikirkan masak-masak tujuan dia bertato, karena tato seperti ini sangatlah mahal (harga tato dihitung berdasarkan kerumitan dan bahan yang digunakan).

Sebaliknya, jika tato yang digoreskan hanya berwarna hitam dan tidak memiliki bentuk yang artistik, dapatlah diasumsikan si pemilik hanya ingin eksis (gengsi) atau bahkan sekedar tampil untuk menakuti. Biasannya tipe yang terakhir ini akan menyesali tubuhnya telah dirajah.

Orang yang paham akan seni tato memilih tempat yang sesuai dengan anggota tubuhnya, tidak asal corat-coret di kulit saja, karena bagi mereka tato dirajahkan agar menambah percaya diri, bukan malah merusak pemandangan.

Pemilik tato yang faham, akan merawat tatonya agar tidak berubah karena seiring waktu kulit akan mengendor dan goresan tinta pada kulit akan memudar. Tentu tidaklah menjadi indah jika di masa muda tatonya berbentuk beruang saat tua berbentuk marmut.

Harus diakui jika bentuk tatonya bagus dan digoreskan pada kulit yang cocok, maka akan menimbulkan kesan seni dan bahkan kesan mistis, contoh pada suku-suku yang hidup di kawasan Oceania (sekitar Samudera Pasifik).

Di sana tato dikesankan sebagai baju zirah mereka, sehingga perajahan tubuh mengikuti pola yang khas namun berbeda antarindividunya yang disesuaikan dengan karakter masing-masing. Penempatan tatonya pun memiliki arti dan makna mengenai si pemakainya.

Nilai tato adalah relatif, seseorang yang berpikiran terbuka akan menangkap kesan tato adalah suatu seni atau sebagai bentuk ekspresi masing-masing. Namun bagi sebagian masyarakat kesan tato tidak lebih dari penandaan perilaku yang liar.

Baca Juga  Pindah Katolik, Putri Mahkota Monako dilarang Menjadi Ahli Waris Tahta Inggris

Tentu tidak bisa disamaratakan pemilik tato dengan nilai tertentu. Perilaku seseorang tidak bisa dilihat dari penampilannya saja, walau memang penampilan lah yang paling pertama dinilai oleh nalar manusia.

Agama Islam melarang perajahan tubuh, selain oleh karena melukai diri, tinta tato dapat menahan air wudhu sehingga tentu sholat jadi tidak sah. Tetapi jika sudah terlanjur bertato tetaplah melaksanakan rukun Islam, karena Alloh Maha Pengampun.

Bagi yang akan merajah tubuhnya, lebih baik untuk dipikirkan matang-matang. Tato akan menggores pada tubuh seumur hidup, dan membutuhkan biaya kembali untuk merawatnya.

Saat dihapus, biayanya lebih tinggi daripada saat menggambarnya. Selain itu perajahan tato tidak bisa seenaknya, harus benar-benar oleh seniman yang terampil dan mengerti akan kebersihan jarum tato.

Penggunaan jarum tato yang tidak steril bisa menjadi penghantar virus sumber penyakit, termasuk AIDS. Pun tinta tato, apalagi yang berwarna, jika tidak memenuhi standar kesehatan dapat menyebabkan kanker kulit.

Tidak bisa dipungkiri tato merupakan bagian dari warisan budaya nusantara dan harus dihargai sebagai identitas sebuah suku. Perbedaan persepsi akan nilai tato tidak perlu diperdebatkan lagi karena seseorang tidak dinilai dari rajahan tubuhnya.