Taşawwuf dan Keberagaman Kita

51
Ilustrasi Muzakarah Ulama Internasional/ (foto:serambi indonesia)

Belumtitik.com – Taşawwuf adalah perpaduan syari’at, tariqat, dan hakikat. Muaranya adalah makrifat. Dalam Islam, ini adalah jalan spiritualitas yang menuju pada menerima keberagamaan. Keberagamaan yang substantif.

Al-Ghazali pada Al-Munqidz min Az-Zhalal; dalam Majmu’ah Rasa il al-Imam al-Ghazali, vol. VII menyebutkan bahwa: spekulasi teologis tidak dapat membawa seseorang kepada pengertian Tuhan yang benar.

Tuhan sebagai sesuatu yang transenden, tidak dapat digapai oleh pemikiran manusia. Namun, dengan intuisi seseorang akan dapat merasakan kehadiran-Nya. Pandangan masyhur Ibnu ‘Arabi menyebutkan, manusia sejatinya memiliki dua naskah pada dirinya: naskah lahir dan naskah batin. Manusia bukanlah semata makhluk material, tapi juga makhluk spiritual.

Sayyidina Ali berkata,“Jangan mengira kalian adalah butiran debu; kalian adalah alam raya yang besar.”

Dari sini, sebagian sufi menyebut batin manusia sebagai “qalbu al-‘alam” (jantungnya semesta). Ini menunjukkan bahwa agama mengandung dimensi eksoteris (lahiriah) dan esoteris (bathiniah).

Dimensi esoteris merupakan ruh agama. Ada dua term yang digunakan dalam konteks ini, yaitu ‘Irfân dan Taşawwuf.

‘Irfân atau Taşawwuf, adalah dimensi esoteris agama. Manusia akan sampai pada kesadaran mengenai hakikat diri melaluinya. Suatu kondisi yang dapat mengantarkan manusia pada pengenalan terhadap Tuhan dan peniadaan dirinya [baca: ke-Aku-an] dengan menempuh jalan spiritual.

Dimensi bathiniah (ruh) manusia, saling terkait dalam menapaki pengalaman spiritual menyingkap Wujud Hakiki. Dalam term ‘irfani disebut penyaksian (syuhûdî). Dalam konteks ini, keberagamaan tidak terbatas pada pemahaman teologis untuk mengenal-Nya.

‘Irfân atau Taşawwuf? ‘Irfân dari kata dasar bahasa Arab ‘arafa, semakna dengan makrifat. Artinya mengenal, pengenalan, dan pengetahuan. Tetapi, ia berbeda dengan ilmu (`ilm).

‘Irfân berkaitan  dengan  pengetahuan  yang  diperoleh secara  langsung  melalui pengalaman, sedangkan ilmu menunjuk pada pengetahuan yang  diperoleh lewat transformasi (naql) atau rasionalitas (aql).

Baca Juga  Reaktualisasi Pemikiran Cak Nur

Term ‘Irfân mengacu pada hadis mengenai Pengenal-Diri yang masyhur di kalangan sufi,“Barangsiapa mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhannya.” Secara terminologis, ‘irfan diindentikkan dengan ma’rifat sufistik.

‘Irfân menunjukkan suatu bentuk pengetahuan, dimana perjalanan sayr wa suluk (riyaadhaah) seorang hamba kepada Allah, akan meniscayakan suatu bentuk pengetahuan yang lebih hakiki daripada pengetahuan konsepsi (tashawwur) dan afirmasi (tashdiq) panca indra dan akal.

‘Irfân juga didefinisikan sebagai ilmu tajalli (penampakan) dan ilmu nama sebagai lawan dari ilmu esensi. ‘Irfân diperoleh melalui jalan al-idrak al- mubasyir al wujudani, bukan penangkapan secara rasional. Jalan tersebut ditempuh oleh seseorang atau sekelompok orang yang disebut sufi/’arif atau ‘urafa (jamak dari arif), yakni mereka yang memperoleh pengetahuan hakiki ontologis; pengetahuan yang diawali dengan makrifat nafs (pengenalan diri) yang kemudian bermuara pada makrifat Rabb.