19.5 C
Aceh
Rabu, Juli 15, 2020

Siapakah yang Ada Di Hatimu Wahai Manusia?

Populer

SMP Negeri 3 Banda Aceh Ganti Kepala Sekolah

Belumtitik.com - Kabid SMP Dinas Kota Banda Aceh Sulaiman Bakri, S.Pd, M.Pd mengharapkan para kepala sekolah menggunakan analisis SWOT dalam memimpin Sekolah,...

Mengapa Aceh (Tak) Mungkin Merdeka

Jika dihitung sejak perjanjian GAM dan Jakarta (2005), maka sudah 14 tahun Aceh gagal meraih kemerdekaan dari negara induk...

Eksistensi Ilmu Sosial-Politik dalam Pembangunan Kontemporer

Manusia merupakan lokus pembangunan. Stiglitz (2007) melihat bahwa pada dasarnya pembangunan harus mengacu pada transformasi kehidupan manusia, bukan sekedar transformasi ekonomi. Karena itu, manusia...

Aceh Ibu Kota Indonesia

Belumtitik.com -- Sekumpulan anak muda di Banda Aceh terlihat serius berdiskusi soal usulan pemindahan ibu kota. Jokowi dalam pernyataannya mengatakan bahwa pemindahan...
Andi Kurniawan
Sekjend JIMI (Jaringan Intelektual Muda Islam)

Belumtitik.com – Sebuah studi kasus bercerita tentang seorang yang bertopeng baik dan saleh yang sering kita jumpai di panggung ceramah atau di tempat yang lain, studi kasus lainnya seorang yang bertopeng jahat dan maksiat sering kita jumpai di jalanan atau di mana pun.

Manakah yang lebih dipandang oleh manusia di antara keduanya, namun sungguh Allah Swt. melihat hati seseorang. Bukan paras, harta dan sesuatu yang bersifat materi lainya Karena Dialah yang mengetahui dan membolak-balikan isi hati manusia.

Imam Ghazali telah menulis sebuah risalah Al Kasyfu wal tabiin, sebuah kitab yang isinya penjelasan tentang ketertipuan-ketertipuan manusia. Orang mukmin khususnya sering kali tertipu oleh amal yang telah mereka kerjakan.

Sehingga ketertipuan ini mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri. Imam Ghazali menjelaskan contohnya yaitu seorang mukmin merasa amal baiknya lebih banyak.

Mereka adalah orang yang selalu mengira bahwa perbuatan baik mereka lebih dominan, padahal justru yang lebih banyak adalah perbuatan maksiatnya. menghitung-hitung amal baik tetapi lupa menghitung dosanya.

Jangan dibayangkan karena sudah pasti kita menjadi salah satu orang yang tertipu juga.

Belum lama ini, kita dihebohkan dengan rilis LBH Yogyakarta dugaan pelecehan seksual yang dilakukan seorang Alumni Arsitektur UII yang Kini sekolah S2 di University of Melbourne. IM memiliki latar belakang sebagai penghafal Al-Quran serta mahasiswa berprestasi.

Ia sering diundang untuk mengisi pengajian dan sebagai motivator. malangnya ia menjadi terlapor oleh 30 orang perempuan juniornya semasa di kampus yang mengaku telah menerima pelecehan seksual.

Karir IM kian terancam, pihak kampus telah mencabut gelar mahasiswa berprestasi yang diberikan tahun 2015. Entah apa yang akan terjadi lagi yang menantinya, seakan apa yang diusahakan selama hidupnya hilang dalam seketika, tentu saja kita berharap dugaan itu salah.

Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali Allah Azza wa jalla dan memang benar tidak ada yang selamat bagi yang mengikuti hawa nafsu. Selain bentuk hawa nafsu ini yang tak nampak seperti virus, dia hidup bergandengan dengan kita.

Kemana pun manusia pergi hawa nafsu akan mengikuti karena dia ada dalam diri manusia. Hawa berarti angin, nafsu itu bagian internal diri manusia. Saat pernah punya keinginan yang banyak itulah hawa nafsu.

Hawa nafsu ini bisa kita rasakan seperti layaknya angin berhembus walau tak nampak. Secara umum hawa nafsu merupakan keinginan hati, maka muncul pertanyaan yang ada di hati kita Allah SWT atau hawa nafsu itu sendiri. Karena Jika hati dipenuhi hawa nafsu inilah penyebab kehancuran bagi seorang manusia. Maka dari itu bijaklah dalam urusan hati.

Kasus yang terjadi di Yogjakarta itu, jika kita lihat tingkatannya berada di level nafsu biologis. Nafsu itu dimiliki oleh semua orang. Cukup mudah padahal mengatasinya, menikah saja ikut anjuran agama Islam. Apalagi jika sudah mampu secara lahir maupun batin, selain gejolak mata dan seksual teratasi, juga lebih bisa mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Apakah seorang Ulama bisa tertipu juga dengan mengikuti hawa nafsu? bahkan dalam pengelompokan yang dilakukan oleh Imam Ghazali, ketertipuan-ketertipuan terbanyak adalah kelompok ulama, kedua ada ahli ibadah, ketiga adalah orang kaya dan keempat ahli sufi. 

Kata imam Ghazali, Ulama yang hanya sibuk mendalami ilmunya, namun lupa mengarahkan dirinya untuk taat dan mencegah dirinya dari maksiat. Merasa memiliki posisi tinggi dihadapan Allah karena ilmunya sehingga Allah tidak akan menyiksa mereka dan mereka tidak akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka bagaikan dokter yang dapat mengobati orang lain, namun saat dirinya sakit ia tidak melakukannya.

Jika ulama saja tertipu dengan dirinya sendiri apalagi kita masyarakat awam. Malah keseringan masyarakat awam itu ditipu oleh elite-elite pejabat pemerintah yang tidak amanah di negeri mereka sendiri.

Ghazali mungkin lupa memasukkan kelompok satu ini atau ada di pembahasan lainnya yang penulis belum tahu. Oleh sebab itu, perkara hati sudah semestinya kita pelajari walau tidak banyak tetapi sedikit cukup untuk menjaga kita dari ketertipuan-ketertipuan dunia yang memalingkan kita dari Allah Azza wa Jalla.

Manusia saja yang cuek, Allah itu dekat dengan hambanya bahkan lebih dekat dari urat nadinya sendiri. Kadang sesuatu yang tidak kita minta diberikan apalagi yang kita minta. Merengeklah saat malam tiba seperti anak kecil. Mintalah sesukamu pasti di berikan. Tetapi jangan sesekali menyekutukannya karena dosa yang paling besar yaitu perbuatan syirik.

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang bertambah ilmunya, namun tidak bertambah petunjuknya, maka ia tidak akan bertambah apa-apa kecuali semakin jauh dari Allah”. Semakin berkualitas ilmu seorang maka semakin berkualitas pula hubungan dengan sesama manusia.  Semakin dekat pula hubungannya dengan Allah Swt. maka bagaimana dengan kita hari ini, sudahkah ilmu yang kita peroleh menjadikan kita dekat dengan sang pencipta kita.

Andi Kurniawan
Sekjend JIMI (Jaringan Intelektual Muda Islam)
- Advertisement -

Artikel Terkini

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk kita dilirik secara awam dan...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Fitrah Manusia

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum yang menjelaskan tentang fitrah umat manusia yang diciptakannya.    فَاَقِمْ وَجْهَكَ...
- Advertisement -

Artikel Lain

- Advertisement -