Pondok Sudut Kota

7
ilustrasi

“Pantang pulang sebelum Shalahuddin menang” inilah semboyan yang sering saya dengar, saya teriak-teriak ketika menjabat seorang santri dipondok pesantren Shalahuddin Al-munawwarah ketika itu, lalu tiba suatu waktu saya harus meninggalkan tempat ‘penjara’ yang suci itu untuk melanjutkan pendidikan yang saya tuju pindah ke kota sebelah.

namun kata itu tidak pernah lupa dari ingatanku meski sudah lama tidak kembali ke tempat itu (Shalahuddin) rindu suasana makan di ko’ah bersama kawan-kawan yang gokil dan tak luput di temanin sepotong ikan mas yang menempel di pinggir piring hijauku pemberian pak dapur yang gendut itu namun begitu baik hatinya kepadaku.

Kawan aku rindu suasana kamar 04 itu, masih ingatkah kalian akan Coretan tinta yang berwana hitam mengkilat itu ? Suasana kelas 5 B yang baru kita tempati itu ? Kawan di mana sudah kalian semua ?

Masih ingatkah kalian dengan legenda sumur kembar yang berada tepat di belakang kantor ma’had kita ? Aku merindukan suasana itu, mandi,bercanda, berkelahi lalu baik lagi masih ingatkah kalian kawan?

Kita sama-sama tertidur lelap di atas tikar setelah mengoreng buah keladi itu?hahahha lucu diingat kawan tapi saya rindu suasana itu.

Saya tidak pernah lupa suatu perkataan guru besar kita Ir.Tahmin Ja’far (mudir ma’had shd) “Hum rijal nahnu rijal” kata yang sangat sederhana namun sangat berguna dan berarti bagi saya. Terima kasih atas didikanmu meski dulu dibenci tapi dengan didikanmu itu, kini saya mengerti bagaimana pentingnya pendidikan jasamu akan kami kenang sepanjang masa.

Baca Juga  Surat Cinta Untuk Abangnda R. Saddam Al Jihad