Pemuda dan Politik

86

Ilustrasi: HMI Cabang Kutacane

Belumtitik — “Beri aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia” -Soekarno. Begitu sepenggal kata bapak presiden RI Pertama. Kita harus berani mengatakan persatuan Indonesia segala-galanya, jauh di atas persatuan keagamaan, kedaerah, kesukuan dan golongan.

Di Indonesia sendiri sesuai dengan data demografi Indonesia 2018, pemuda di tanah air range usia 16-30 tahun berjumlah 61,8 juta orang atau 24,5 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta.

Tentu ini bukan hanya sepenggal kalimat biasa, sang proklamator sendiri yang mengucapkan dengan penuh semangat. Pada setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada setiap tanggal 28 Oktober tiap tahunnya, mungkin itu adalah salah satu kutipan pidato Bung Karno di atas.

Kutipan pidato tersebut menggambarkan bahwa salah satu founding father bangsa kita ini, sangat yakin akan potensi pemuda, dan sangat yakin bahwa harapan untuk memajukan bangsa ini ada di tangan generasi mudanya.

Jadi, kembali ke pertanyaan semula. Apakah “mimpi” Bung Karno tentang pemuda-pemuda Indonesia yang mengguncang dunia telah menjadi kenyataan? Kalau kita melihat berbagai prestasi-prestasi yang diraih pemuda-pemuda Indonesia, maka kita bisa berkata “Ya, mimpi itu sudah terwujud”. Tapi, jika kita melihat sebagai sebuah bangsa, maka mungkin kita harus berpikir sekali lagi untuk menjawab “Ya”.

Salah satu indikator untuk melihat kualitas pembangunan manusia di suatu negara adalah dengan melihat angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2015, United Nations Development Programme (UNDP) dalam laporan Human Development Report 2016 mencatat, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2015 berada di peringkat 113, turun dari posisi 110 di 2014. Di lingkup yang lebih kecil seperti ASEAN, Indonesia hanya menempati rangking ke-5 dibawah SIngapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. Posisi yang sangat miris.

Baca Juga  Menelaah Identitas dan Entitas Mahasiswa

Di tahun 2020 Indonesia akan mengalami sebuah fenomena demografi yang disebut sebagai fenomena bonus demografi. Berdasarkan proyeksi penduduk yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2020 Angka Ketergntungan (dependency ratio) Indonesia akan berada di angka 47,7 persen.

Itu berarti, pada tahun 2020 nanti seratus penduduk usia produktif “hanya” akan menanggung sekitar 47 penduduk usia tidak produktif. Sederhananya, pada saat itu penduduk usia produktif di Indonesia dua kali lipat bahkan lebih dari jumlah penduduk usia tidak produktif.

Kondisi ini akan terus berlanjut hingga 2030, dengan angka ketergantungan mencapai 46,9 persen, lebih sederhana lagi, Indonesia akan “kebanjiran” pemuda.

Tidak hanya Soekarno, Pramoedya Ananta Toer juga berkata “Pemuda harus melahirkan pemimpin,” begitu pesan terakhir Pramoedya Ananta Toer yang terukir di nisan pusaranya.

Ungkapan tersebut mengilustrasikan kepada kita bahwa pemuda merupakan Agent of Change, pelanjut sejarah, penerus cerita, dan penyambung tongkat estafet perjuangan dan cita-cita orang tua.

Dalam ajang Pemilu inilah para pemuda harus mengambil peran. Bukan hanya berdiam diri saja dan bersikap tidak peduli yang bisa menjadikan para pemuda apatis. Mengutip kutipan dari Soe Hok Gie “hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus, tetapi aku memilih untuk merdeka”.

Sebagaimana pepatah mengatakan: “Youth today is leader tomorrow.”

Pernyataan di atas bermakna “pemuda saat ini adalah pemimpin di masa depan”. Sebagaimana telah kita ketahui dalam menentukan pemimpin pemerintahan di Indonesia menggunakan sistem demokrasi. Menurut Abraham Lincoln, demokrasi adalah sistem pemerintah yang diselenggaran dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Lalu apa kaitannya pemuda dengan politik? Bagaimana seharusnya peran pemuda dalam politik? Mengapa peran pemuda dalam berpolitik sangat penting? berbagai pertanyaan bermunculan

Baca Juga  HMI 'Kakek' Indonesia

Peran pemuda dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan nasional dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan negeri ini, termasuk dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu).

Bahkan keterlibatan pemuda dalam Pemilu sudah diatur dalam UU No. 40 Tahun 2008 Pasal 17 ayat (3). Di dalam UU tersebut disebutkan bahwa peran aktif pemuda sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan salah satunya adalah pendidikan politik dan demokratisasi.

Idealisme yang dimiliki pemuda dapat menjadi modal dasar untuk menentukan pilihannya terhadap berbagai calon pemimpin Indonesia kedepannya. Dalam menentukan calon pemimpin seharusnya pemuda menggunakan pertimbangan rasional serta kritis dalam menilai seorang figur.

Pemuda seharusnya masuk lebih jauh masuk kedalam dunia politik, apalagi kondisi saat ini, Money Politic yang sudah dianggap sakral dikalangan masyarakat. Peran aktif pemuda dalam mengatasi budaya pemilu kotor dalam berdemokrasi.

Di Athena politik pada mulanya adalah berbicara tentang kehidupan kota. kata politik yang kita pungut sekarang adalah seseorang yang tidak memiliki kecerdasan dan komitmen dalam urusan kota atau bersama itu disebut sebagai orang orang idiot.

Jadi istilah idiot yang sekarang kita asosiasikan rendah dalam pengetahuan matematika dan fisikanya, justru dahulu kata idiot dinisbatkan kepada pemuda yang tidak punya komitmen atau terlibat dalam urusan politik.

Demokrasi di Athena diaplikasikan secara langsung dalam artian rakyat, melalui majelis, boule, dan pengadilan mengendalikan seluruh proses politik dan sebagian besar warga negara terus terlibat dalam urusan publik. Tetapi sistem ini tidak bertahan lama karena desakan partisipasi publik semakin masif, sampai pemilihan umum pertama sekali digelar.

Dalam Terrence A. Boring, Literacy in Ancient Sparta, Leiden Netherlands (1979), diceritakan bahwa pemungutan suara pertama dilakukan di Sparta pada 700 SM. Apella merupakan majelis rakyat yang diadakan sekali sebulan. Di Apella, penduduk Sparta memilih pemimpin dan melakukan pemungutan suara dengan cara pemungutan suara kisaran dan berteriak.

Baca Juga  Memuji Lawan

Aristoteles menyebut hal ini kekanak-kanakan, berbeda dengan pemakaian kotak suara batu layaknya warga Athena. Tetapi Sparta memakai cara seperti ini karena lebih mudah dan demi mencegah pemungutan bias, pembelian suara, atau kecurangan yang mendominasi pemilihan-pemilihan demokratis pertama.

Artinya hampir tiga ribu tahun yang lalu orang Sparta sudah mencium adanya politik dagang sapi, meski hal ini tidak juga dapat dicegah dalam sistem pemungutan suara paling modern sekalipun.

Jadi mari pemuda bangsa terlibat dalam urusan politik tetapi politik yang memuliakan daya potensi kita. Pemuda merupakan titik awal generasi untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa ini. Generasi muda harus mengawal setiap hal yang negatif, demi terwujudnya pemimpin yang benar-benar mampu mewakili masyarakat indonesia.