19.5 C
Aceh
Rabu, Juli 15, 2020

Nasib Aceh Di Bawah Parnas

Populer

SMP Negeri 3 Banda Aceh Ganti Kepala Sekolah

Belumtitik.com - Kabid SMP Dinas Kota Banda Aceh Sulaiman Bakri, S.Pd, M.Pd mengharapkan para kepala sekolah menggunakan analisis SWOT dalam memimpin Sekolah,...

Mengapa Aceh (Tak) Mungkin Merdeka

Jika dihitung sejak perjanjian GAM dan Jakarta (2005), maka sudah 14 tahun Aceh gagal meraih kemerdekaan dari negara induk...

Eksistensi Ilmu Sosial-Politik dalam Pembangunan Kontemporer

Manusia merupakan lokus pembangunan. Stiglitz (2007) melihat bahwa pada dasarnya pembangunan harus mengacu pada transformasi kehidupan manusia, bukan sekedar transformasi ekonomi. Karena itu, manusia...

Aceh Ibu Kota Indonesia

Belumtitik.com -- Sekumpulan anak muda di Banda Aceh terlihat serius berdiskusi soal usulan pemindahan ibu kota. Jokowi dalam pernyataannya mengatakan bahwa pemindahan...
Muammar
Aktivis Sosial Politik dan Calon Master Ilmu Komunikasi Politik
ilustrasi plt gubernur Aceh (dok.acehimage)

Mohammad Hatta pernah berkata: bahwa Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta.

Aceh,setelah putusan Majelis Hakim Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi dan memutuskan mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dihukum 7 tahun pidana penjara atas perkara suap proyek yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 13 Februari 2020 lalu. Kini Aceh telah berada di bawah pimpinan Partai Nasional.

Pemerintah Aceh tampaknya sudah tutup buku bicara tentang keistimewaan, hak-hak korban konflik apalagi persoalan pemisahan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) . hal ini terlihat bahwa, semua keinginan tersebut hanya dijadikan sebagai momentum kepentingan politik sesaat, dan sekarang para pimpinan partai Lokal pun sudah senantiasa melebur dengan pimpinan Partai Nasional.

Sejak damai 15 Agustus 2015 silam sudah dua periode Aceh di kuasai oleh Parta Lokal, kini giliran Partai Nasional. Nah, bagaimana dengan nasib bangsa Aceh ke depan di bawah kepemimpinan Parnas.

Diketahui, ada empat Partai Lokal yang ikut pemilu 2019 di Aceh, antaranya Partai Aceh (PA) dengan perolehan 18 kursi, Partai Nanggroe Aceh (PNA) 6 kursi, Partai Daerah Aceh (PDA) 3 kursi dan partai  Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA) memperoleh 1 kursi.

Maka dengan demikian, parlok sudah saatnya bicara tentang nasib masyarakat Aceh kedepan, Aceh mau dibawa kemana saat ini. Sebagaimana yang dilakukan Parnas dua periode lalu demi menyuarakan aspirasi masyarakat melalui kerja-kerja nyata mereka, Parlok jangan diam saja.

Apakah sekelas Partai Aceh (PA) sebagai lawan Pilkadanya 2017 lalu sudah mampu dijinakan oleh para petinggi partai nasional, kita sabagai masyarakat tidak tahu persis, nampaknya sudah mulai mencair pada penguasa demi segelintir nafkah yang diincarnya.

Jika Partai Lokal sebagai tameng dasar perjuangan masyarakat Aceh secara keseluruhan sudah melebur kepada pengusaha Parnas dan telah mengesampingkan kepentingan-kepentingan masyarakat Aceh saat ini, di takutkan ke depan Parlok hanya tinggal sejarah.

Jika pun demikian, maka Pemerintah pusat tidak perlu pusing lagi memikirkan nasib masyarakat Aceh secara keseluruhan, cukup pegang pentinggi-petinggi nya saja. Tanpa harus memikirkan kesalahan yang pernah terjadi di masa lampau, baik itu pembantaian masa lalu atau yang akan terjadi. Mengapa demikian, elit dan pemerintah di Aceh saat ini cuma bercanda untuk memisahkan diri dari NKRI.

Bisa kita lihat bersama, bahwa momen Referendum yang pernah di ucapkan Muzakir Manaf di Haul Hasan tiro hanya sebagai isu kepentingan saja disaat-saat tertentu, Tidak bisa dipungkiri, isu Referendum cuma alat pemulus kepentingan politik saja. Jika pun serius, hanya sekedar emosi kekalahan politik dan akan diproses hukum, begitu kata Wiranto dan Meoldeko saat menanggapi pertanyaan Muzakir manaf 2019 lalu.

Apalagi membicarakan persoalan persiapan kemerdekaan sendiri. Himme dan lambang Aceh pun kini tinggal kenangan. Sementara Luas wilayah, nilai ke Acehan, rasa memiliki dan dana otsus juga tidak mampu dihabiskan setiap tahunnya.

Kini Aceh sudah di bawah pimpinan Parnas, apa yang akan masyarakat pikirkan tentang peristiwa konflik yang pernah terjadi masa lalu, pembantaian, Kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan sudah kah teratasi. Kelihatannya sekerang hanya tinggal isu kerakusan elite Aceh akan kekuasaan saja.

Jika pola memanfaatkan rakyat untuk memulihkan kemiskinan pribadi, Pilkada atau pileg kedepan, bagi politisi sudah bisa mempersiapkan isu kampanye lain.
Dalam kampanyenya, katakan saja kepada masyarakat dengan tegas bahwa kami datang untuk mencari kekayaan dan keuntungan dari masyarakat untuk pribadi keluarga semata.

Perlu diperhatikan, Aceh sekarang tidak dalam keadaan baik-baik saja, legislatif dan eksekutif sedang memperlihatkan kerakusan kepada masyarakat yang memilih dirinya sendiri. Mulai dari kebijakan yang tidak mengarah sampai dengan kasus tender beberapa proyek di Aceh saat ini yang luput dari pantauan masyarakat.

Partai lokal dan seluruh elemen masyarakat Aceh bersatulah, jangan biarkan pemerintah mengeluarkan kebijakan senikmatnya saja.

Tugas masyarakat sabagai pemilih saat Pilkada dan Pileg, jangan sampai dijadikan pelengkap derita di musim pesta demokrasi semata, sekarang kawallah kebijakan yang diinstruksikan oleh junjungan pilihannya masing-masing.

Bukan hanya yang mewakili Parlok saja, akan tetapi masyarakat juga mempunyai beban untuk menyadarkan petinggi-petinggi dari perwakilan Parnas bahwa mereka juga bagian dari masyarakat Aceh secara individu.

Meskipun, saat ini rong-rongan masyarakat terhadap PLT Gubernur Aceh bermacam-macam, tidak perlu ditanggapi secara serius. sekarang cukup sendiri mengurus Aceh dengan segala kerendahan hati semuanya bahwa pembahasan pendamping Wagub sekaligus paket baru di 2022 mendatang.

Muammar
Aktivis Sosial Politik dan Calon Master Ilmu Komunikasi Politik
- Advertisement -

Artikel Terkini

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk kita dilirik secara awam dan...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Fitrah Manusia

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum yang menjelaskan tentang fitrah umat manusia yang diciptakannya.    فَاَقِمْ وَجْهَكَ...
- Advertisement -

Artikel Lain

- Advertisement -