Mengenal Batu Aceh di Semenanjung Malaysia

75
Muhammad Noval Arkeolog Aceh/FB

Semenanjung Malaysia – Nisan batu Aceh merupakan salah satu golongan batu nisan Islam yang tersebar luas di Asia Tenggara. Nisan Aceh merupakan suatu kesenian Islam yang sangat berarti bagi seluruh kawasan Nusantara.

Keindahan bentuk dan ukiran yang terpahat pada nisan Aceh menjadikannya sebagai monumen luarbiasa peninggalan Islam dan sejarah kesenian Nusantara. Selain itu, batu nisan Aceh menjadi salah satu bukti penting untuk mengetahui awal masuknya Islam ke Nusantara.
Sampai saat ini nisan Malik Al- Shalih yang terdapat di Pasai masih dijadikan rujukan utama awal masuknyaIslam ke Nusantara pada abad ke 13 M. Nisan Aceh tersebardiseluruh wilayah Nusantara.
Sedikitnya telah ditemukan 4000 nisan Aceh di Indonesia yang tersebar di wilayah Sumatera, jawa, dan Sulawesi. Selain itu, Nisan Aceh juga ditemukansekitar 400 buah di Semenanjung Malaysia.
Bahkan, puluhan nisan Aceh juga ditemukan di Selatan Thailand (Pattani) dan Brunei (Perret 2001). Mengapa nisan Aceh tersebar diseluruh Nusantara khususnya di Semenanjung Malaysia? Hal ini sangat menarik untuk dibincangkan.
Muhammad Noval disalah satu nisan, Kedah
Istilah Batu Aceh
Istilah Batu Aceh lebih populer di Malaysia dibandingkan wilayah Aceh sendiri. Istilah batu Aceh pertama sekali muncul pada tahun 1920 M bersamaan dengan penemuan sebuah makam keramat di Pahang yang dipercayai milik Keramat Saidi Abu Bakar yang dijumpai oleh seorang wartawan Circom.
Ia telah menerbitkan sebuah artikel berkaitan dengan makam tersebut menggunakan Istilah batu Aceh. Ia meyakini nisan ini merupakan nisan yang berasal dari Aceh seperti yang pernah ditemuinya ketika membuat kajian di komplek Makam Malik Al-shalih, Aceh Utara (Othman, 1998).
Setelah zaman penjajahan nama batu nisan Aceh dipopulerkan oleh Othman Yatim dan Ambary. Pemakaian istilah batu Aceh tetap dilanjutkan oleh beberapa peneliti lainnya di Asia Tenggara hingga sekarang.
Pengaruh Samudera Pasai
Aceh dari dulu telah dikenal memiliki beberapa  kerajaan yang hebat dan memiliki wilayah kekuasaan hingga ke Semenanjung Malaysia. Beberapa kerajaan tersebut ialah Samudera Pasai, Perlak, Lamuri, dan Aceh Darussalam.
Kerajaan-kerajaan ini memiliki andil besar dalam menyebarkan Islam keseluruh penjuru Nusantara. Dalam catatan sejarawan, Samudera Pasai (1297) adalah Kerajaan Islam paling awal yang telah memegang peranan penting dalam menyebarkan Islam keseluruhNusantara termasuk ke Malaysia.
Setelah Islam berkembang di Sumatera, para pendakwah dikirim oleh raja Pasai kebeberapa daerah. Salah satunya ialah ke Melaka dan wilayah Semenanjung Malaysia lainnya.
Jakub (1973) menyatakan dalam tahun 1416 M terdapat beberapa pendakwah yang dikirim Kerajaan Samudera Pasai ke Melaka untuk mengembangkan agama Islam. Salah satu diantaranya ialah Saidil Aziz yang berhasil mengislamkan raja Melaka Parameswara dan menggantikan namanya menjadi Muhammad Syah.
Sedangkan anaknya bernama Iskandar Syah kemudian dikawinkan dengan putrid Sultan Zainal Abidindari Pasai (Yusuf, 2006: 172).
Hubungan antara Pasai dan Melaka hanya berlangsung selama 100 tahun akibat jatuhnya Melaka ketangan Portugis pada tahun 1511 M. Hubungan tersebut dilanjutkan oleh Kerajaan Aceh Darusslam dalam upaya mengusir Portugis dari Melaka.
Hubungan kerajaan Samudera Pasai dan Melaka diyakini menjadi awal mula persebaran batu Aceh ke Semenanjung Malaysia. Salah satu buktinya ialah batu nisan Aceh yang ditemukan di Bukit Inas, Batu Pahat.
Nisan di Bukit Inas ini diyakini sebagai batu Aceh karena mempunyai bentuk dan hiasan yang sama dengan batu Aceh yang ada di Samudera Pasai. Selain itu, juga dijumpai puluhan batu nisan Aceh di Kampung Pulau Marinti, Baruas, Negeri Perak.
Konon dalam buku sejarah raja-raja Pasai diceritakan pada tahun 1457 masehi ketika Sultan Malik Al-Shalih di usir oleh kakandanya Malik Az-Zhahir hingga sampailah ia ke Baruas, baginda bersandar di bawah sebuah pohon yang diberi nama Beruas.
Hingga kini di Baruas banyak dijumpai batu-batu nisan Aceh dari Samudera Pasai. Bahkan makam sultan pertama negeri Perak Muzaffarasyah I menggunakan batu nisan Aceh.
Nisan ini terletak di Teluk Bakung, berhampiran dengan sungai Muara Perak. Namun batu tersebut sudah diganti pada awal abad 20 M. Batu nisan yang dijumpai di Semenanjung Malaysia dari tahun 1475 hingga awal abad ke 16 Masehi adalah batu yang dibawa langsung dari Samudera Pasai (Othman, 1988).
Meneliti Sebaran Nisan Aceh
Pengaruh Aceh Darussalam
Setelah tahun 1511 Masehi batu Aceh semakin meningkat dijumpai diseluruh wilayah Semenanjung Malaysia.Hal ini disebabkan pengaruh politik ekspansi Kerajaaan Aceh Darussalam yang menguasai hampir seluruh Semenanjung Malaysia dibawah Sultan Iskandar Muda. 
Pada masa ini baru ada satu catatan tentang keberadaan batu Aceh di Semenanjung Malaysia. Buku Bustanussalatin yang ditulis Nuruddin Ar-Raniry (1638) menjelaskan pada tahun 1641 sultan Iskandar Tsani memerintahkan para pegawai kerajaan untuk membubuhkan batu nisan pada keluarga dekatnya di Pahang, Malaysia.
Berikut hasil kutipannya “Pergi kita sekalian ke negeri Pahang membubuhkan batu akan paduka yang mulia sekalian…Setelah itu maka berangkatlah ke Kuala, Nur selawat mengentatkan batu paduka Marhum yang mulia itu diarak dengan segala bunyi-bunyian dan beberapa ratus payung, panji-panji dan alatsenjata… seperti adat menanam batu raja segala raja-raja yang besar-besar”.
Sekarang nisan-nisan Aceh yang diceritakan dalam Busatanussalatin tersebut telah dijumpai di makam Chandong, Pahang yang lebih dikenal makam tujuh beradik (linehan,1934).
Batu Aceh lainnya juga ditemukan di Pulau Pinang yaitu di Komplek pemakaman mesjid Lebuh Aceh, George Town. Masjid ini diketahui dibangun oleh seorang saudagar Aceh bernama Tengku Syed Hussain Al-Aidid pada masa kerajaan Aceh Darussalam.
Terdapat dua pasang nisan Aceh disana yang diyakini diproduksi pertengahan abad ke 18 M. Selanjutnya nisan Aceh juga dijumpai di Makam Langgar, Kampung Bujang Merbok, Negeri Kedah.
Informasi dari warga setempat makam tersebut merupakan penyebar Islam pertama ke Kedah yang bernama Sultan Muzaffar Shah, disamping nisan tersebut juga ada nisan keluarga Sultan yang menggunakan nisan Aceh.
Di Pulau Langkawi baru-baru ini dilakukan penelitian dan telah berhasil ditemukan nisan Aceh dua diantaranya sudah rusak.
Kemudian Pada tahun 1921 Evanmeneliti sebuah nisan yang terletak di Pangkalan Kampas, Negeri Sembilan. Beliau menyimpulkan bahwa batu nisan tersebut merupakan batu Aceh yang di Impor dari daerah Lhokseumawe.
Nisan tersebut dibuat dengan menggunakan batu pasir berbentuk pilar yang memang tidak dapat dijumpai di wilayah Malaysia. Pada tahun 2008 peneliti dari museum Selangor menemukan sebanyak 19 buah nisan di empat lokasi yang berbeda, di Tapak Kampung Lebuk Jaya, situs Batu Tiga Shah Alam, situs Kampung Pinang, Petaling Jaya, dan Bukit Hospital, Kuala Selangor.
Seluruh nisan Aceh yang ditemukan di tapak-tapak tersebut tanpa tulisan sehingga tidak diketahui tokoh yang dikuburkan disana. Temuan tersebut menjadi menarik karena Selangor dikenal dengan negeri yang terbebas dari pengaruh Aceh.
Hampir semua wilayah Semenanjung Malaysia memiliki peninggalan batu nisan Aceh sehingga menjadikannnya terkenal di Malaysia dengan sebutan Batu Aceh.
Masyarakat Malaysia mempercayai bahwa batu nisan Aceh telah diukir oleh orang Aceh, dan diyakini sumber bahan nisan Aceh berasal dari Meraxa dan diproduksi di Gampong Pandee, Banda Aceh.
Hingga kini masih ada beberapa masyarakat di Gampong Pandee yang mahir memahat batu nisan. Batu Aceh telah diimpor ke Malaysia dan wilayah Nusantara lainnya sejak abad ke 14 M hingga abad ke 19 M menggunakan kapal laut.
Batu Aceh di Malaysia biasanya hanya digunakan pada makam raja dan pembesar kerajaan. Sampai saat ini batu nisan Aceh paling tua di Malaysia mempunyai tharikh 856 Hijriah atau 1451 M yang terdapat di Sayong Pinang Johor.
Kesenian mengukir Batu Aceh telah dimulai sejak abad ke 14 hingga abad ke 19 M. Namun, sejak masuknya Belanda ke Aceh pada tahun 1973 M batu Aceh tidak diproduksi lagi.
Orang Aceh disibukkan dengan peperangan melawan penjajah Belanda. Kini masyarakat Aceh hanya menggunakan batu sungai sebagai penanda nisan. Tersebarnya Batu Aceh hingga ke Malayasia menjadi bukti sejarah bagi kita sehingga mengetahui dahulu Aceh pernah mencapai puncak kegemilangan yang memiliki wilayah kekuasaan hingga ke Semenanjung Malaysia.
Penulis
Muhammad Noval S.Pd, 
Student Master Arkeologi di Universiti Sains Malaysia. 
Baca Juga  Milad GAM dan Momentum Kebangkitan Aceh