Lebih Dari Sekedar Kopi, Aurat Wanita Bukan Untuk Semua Lelaki

251
Ilustrasi kader HMI FKIP Unsyiah/dok. IG HMI FKIP Unsyiah

Aurat jangan dibagi bagi.
Biarkan ia terbungkus rapi dan sulit untuk dinikmati.
Lebih dari sekedar kopi, aurat bukanlah untuk semua lelaki.

Kau perlu marah bila ada yang menempati posisi dengan cara belum halal memandangi.
Bukan untuk cari sensasi tebar pesona sana sini.
Lekuk tubuhmu yang menggoda banyak lelaki ajnabi kau senangi.
Secara gratis?! Tampar dirimu, Kau lebih dari sekedar itu. Kau berharga. Sadarlah!

Kau tak perlu marah apalagi memaki.
Ini benar ku tak menghakimi.
Kau cantik jangan seperti Nikita Mirzani.
Tak punya prinsip hanya demi ketenaran yang tak abadi.

Tiket ke surga itu murah tapi kau tak terima.
Kita tak punya orang dalam di sana.
Kecuali kau punya banyak amal ibadah.
Jangan sampai aurat kau tebar dimedia sosial sebagai dosa jariyah.

Selow respon ketika diajak hijrah.
Kau bilang jilbabkan saja dulu hatinya baru fisiknya.
Hey! Jangan mengelak dengan ocehan yang tak sewajarnya.

Sekarang saatnya berubah.
Kau perlu bertransformasi dari masa jahiliyah.
Jangan seperti kaum yahudi yang keras kepala. Sudah benar adanya namun masih tak menerima.

Jangan mudah terpengaruh oleh masa yang membuat kau semakin terperdaya.
Ingat di neraka tak ada AC untuk mendinginkan panasnya.
Kau coba saja panasnya korek api.
Kita tak sanggup apalagi neraka yang akan membuat kita mendidih.

Aku bukanlah ahli surga atau banyak amal ibadah.
Tapi karna ku ingin kita sama sama ke surga dengan Ridho-Nya.

Jangan tersakiti apalagi panas hati ketika membaca sajak ini.
Untuk berubah kau perlu tamparan.
Agar tak lalai dan tenggelam dalam penyesalan.
Belajar jadi Sholeha itu sangat menyenangkan. Kau tak percaya? Mari buktikan.

Baca Juga  Periodisasi Sastra

Banda Aceh,
Ahad 13 Maret 2019.