Kehadiran Agama Bukan Untuk di Kompetisikan

169

belumtitik.com — Seiring perjalanan waktu, sebagian masyarakat sangat mudah melebelkan agama sebagai ajang perlombaan dalam kehidupan, bahkan bersaing untuk menunjukan kepada masyarakat siapa yang lebih hebat diantara aliran sesama Agama Islam. Hal inilah yang menjadi kerancuan dalam konteks agama bukanlah kompetisi. melainkan esensi beragama itu sebagai aturan manusia dalam kehidupan serta beribadah kepada Allah SWT.

Kecerdasan dalam menanggapi persoalan di Aceh bukan dengan mengedepankan sensitivitas dalam sudut pandang, tapi upayakan agar tidak menjatuhkan serta memfitnah dengan satu dalih. Ada lembaga tersendiri yang mendeteksi sesat atau tidaknya suatu aliran. Dalam lembaga tersebut sudah terhimpun cendikiawan islam yang mempuni bahkan tafsiran ulung pun ada dalam lembaga MPU Aceh.

Kekritisan masyarakat jangan sampai memecah belah umat islam di Aceh, justru mendukung ritual-ritual islam yang sudah membuming di Aceh, hal ini sudah menjadi kebanggaan masyarakat Aceh tersendiri dengan berbondong-bondong masyarakat dalam mengikuti kegiatan keagamaan sebagai upaya manusia untuk Mengingat sang maha pencipta. Dari sini kita sudah bisa menilai bertambahnya jama’ah dan ketertarikan masyarakat tersendiri sudah menjadi acuan bahwasanya praktek selama ini yang beredar di Aceh sebagai panggilan untuk kita kembali bertaubat di akhir zaman.

Peristiwa sejarah di Aceh telah mengingatkan akan hebatnya Snouck Hungronje yang merupakan cendikiawan Balanda yang bermuslihat dibalik jenggot dan jubahnya sehingga telah menipu ribuan masyarakat Aceh. Atas kecerdikan ini, Snock Hungronje mengambil kesempatan untuk mengadu domba masyarakat Aceh, supaya masyarakat Aceh bercerai dan bertikai dengan sendirinya, hal ini dibuktikan dengan “Perang Cumbok” antara Ule Balang dan Ulama.

Belajar dari kecerobohan masa lalu adalah investasi terhebat yang harus kita upayakan supaya negeri Aceh bersatu tanpa mudah di obrak-abrik oleh bangsa lain demi mewujudkan visi pemerintah menjadikan Aceh sebagai Kota Syariat Islam secara kaffah. Aceh hari ini, telah menjadi sorotan dunia serta pembicaraan kaum liberal dan kapitalis untuk bagaimana bisa menghancur Aceh.

Baca Juga  Pejuang Islam yang Bikin Gemetar Serdadu Italia

Aceh hari ini dijuluki sebagai, Negeri Syariat Islam, Serambi Mekah, serta negeri kelahiran ulama-ulama sufi, hal inilah yang menjadi kecemburuan kaum sekuler yang mencoba memisahkan antara Agama Islam dengan Aceh. Lantas masyarakat Aceh membiarkan kebiadaban ini terjadi. Dan apakah kita bagian dari mareka kaum sekuler yang ingin menghancurkan bangsa Aceh sendiri.

Ajaran kesufian telah menjadi identitas dan jati diri masyarakat Aceh, siapa yang tidak mengenal Malikul Saleh, Hamzah Fansuri, Abdul Rauf Al-singkili, Nuruddin Ar-raniri serta Abuya Mudawali Al-Khalidi, ulama sufi ini telah menjadi aktor pertama yang memperjuangkan dan menyiarkan Agama Islam di Aceh. Berkat perantara ulama sufi lah, Aceh telah menghirup udara islam, jika seandainya tanpa perantara ulama sufi, sungguh hari ini masih menganut Agama Hindu-Budha serta mempraktekan ritual menyembah berhala.

Ironisnya, sebagian masyarakat Aceh menghakimi pratek-praktek yang dibawakan ulama sufi seperti, berzikir berjama’ah dan sebagainya dengan tujuan mengajak masyarakat mengingat Allah SWT, lalu dengan mudahnya menuduh aliran sesat dan bertentangan, sungguh krisis akal sehat ketika tidak mempercayakan praktek-praktek ulama sufi di Aceh. Lantas praktek seperti apa lagi yang harus ditawarkan ulama sufi, supaya kita mengingat Allah SWT?

Aceh dan islam bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling membutuhkan serta selalu hidup beriringan secara romantis. hal ini telah terbukti di Aceh hampir semua berlebel syariah, Bank Aceh Syariah, Hotel Syariah, Wisata Syariah, hingga Kampus Syariah. Walaupun dalam prakteknya belum paripurna dan ini menjadi catatan bagi pemerintah Aceh untuk memperbaiki semua dari fasilitas hingga budaya menjadi syariah.

Jangan sampai negeri Aceh dicap sebagai negeri yang tidak berprinsip, katanya berlebel Syariat Islam, Serambi Mekah, tapi masih ada kultur yang Westernisasi (kebarat-baratan). Artinya bukan maksud melarang budaya asing, tapi bisa diolah menjadi budaya yang islami,, sesuai dengan kultur keacehan tanpa menelan mentah-mentah budaya eropa.

Baca Juga  Penggembala Unta dan Pencari Guru Sufi

Hal ini sungguh disayangkan Aceh yang merupakan generasi emas yang dibangakan leluhur serta mempunyai harapan besar kepada generasi sekarang agar mampu mengendalikan Aceh seperti tujuan perjuang-pejuang Aceh terdahulu.

Sebagai muslim sejati, mari mendukung secara penuh ritual keislaman yang terjadi di Aceh, baik secara zikir berjama’ah maupun lainnya, asal tidak keluar dari koridor islam. Karena islam tidak dilahirkan untuk memecah belah umat manusia melainkan untuk bersatu dibawah payung keislaman yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Perjuangan seorang muslim bukan hanya sebatas berkoar-koar diatas mimbar melainkan harta dan nyawa siap dipertaruhkan demi membela agama dan negara. Hal inilah yang dimaksud bapak proklamator kita Soekarno yang mendesign Pancasila demi persatuan bangsa Indonesia saling menghargai dan menghormati dalam beragama.
(Wujud diri adalah kota setan) begitulah petuah dari ulama sufi Abuya Syekh H. Amran Wali Al-Khalidi sebagai pengagas Rateb Siribe se- Asia Tenggara.