Debat Pilpres Pamungkas: baik Jokowi dan Prabowo terjebak teori dan retorika

13

belumtitik.com — Dalam debat pemilihan presiden (pilpres) putaran terakhir pada 13 April, kedua calon presiden dan wakilnya, petahana Joko “Jokowi” Widodo-Ma’ruf Amin dan lawannya Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, akan kembali berlaga sebelum rakyat Indonesia menentukan pilihan mereka Rabu depan.

Dalam debat kali ini, kedua kubu membicarakan empat topik: ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, serta industri.

Kami menghubungi beberapa akademisi untuk memberikan analisis mengenai paparan visi misi serta jawaban dua calon presiden tersebut terkait empat topik di atas. Dari empat akademisi yang kami hubungi, kedua pasangan kandidat memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, namun yang jelas kualitas debat kali ini terlihat menurun. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan mereka yang tidak substantif dan jawaban-jawaban yang terkadang tidak relevan dengan pertanyaannya.

Berikut paparan mereka.


Meyakinkan konstituen masing-masing

Febrio Kacaribu, Kepala Kajian Makro, LPEM FEB, Universitas Indonesia

Secara substantif, dalam hal platform dan ide kebijakan di bidang ekonomi, tidak ada perbedaan yang berarti antara Jokowi dan Prabowo. Keduanya ingin mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, melanjutkan pembangunan infrastruktur fisik, revitalisasi industri manufaktur, meningkatkan pemerataan pembangunan, dan memastikan pemanfaatan yang optimal dari pertumbuhan ekonomi digital. Selebihnya sebenarnya hanya retorika, demi enak didengar oleh konstituen masing-masing. Debat terakhir ini semakin menunjukkan kesamaan itu.

Dalam debat, saya melihat Prabowo cenderung menyerang dengan pernyataan-pernyataan yang agak sporadis dan sering tidak konsisten dengan data: harga pangan katanya mahal, listrik katanya mahal, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) katanya merugi, kartu-kartu Jokowi katanya tidak efektif, pemerataan katanya memburuk, dan sebagainya. Beberapa pernyataan Prabowo justru kontradiktif, seperti rasio pajak bisa ditingkatkan dengan menurunkan tarif pajak. Untuk Indonesia, tarif pajak bukan masalah utamanya, melainkan kepatuhan pajak dan kepastiannya.

Jokowi cenderung defensif dan fokus pada kebijakan-kebijakan yang sudah dilakukan. Kata kunci yang sering disebut adalah infrastruktur dan pemerataan. Jokowi mengakui hal-hal yang belum berhasil dilakukan seperti revitalisasi industri dan mengurangi defisit transaksi berjalan. Beliau juga berusaha menjelaskan tentang tahapan pembangunan yang dimulai dengan infrastruktur.

Pemenang dalam sesi ini: Seri antara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi

Baca Juga  Bau Kentut Demokrasi

Secara keseluruhan, menurut saya kedua belah pihak mencapai tujuan masing-masing dari debat terakhir ini, yaitu meyakinkan konstituen masing-masing.


Jokowi terlalu teoritis, Prabowo mengarah ke substansi

Fithra Faisal Hastiadi, Peneliti dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia

Dalam debat kali ini saya melihat Jokowi-Ma’ruf terjebak dalam perdebatan teoritis mengenai konsep makro dan mikro ekonomi dan agak minim dari sisi substansi. Secara umum yang disampaikan pasangan petahana mengenai industri dan investasi cukup klise. Sebagai petahana, mereka belum menemukan jawaban konkrit atas permasalahan deindustrialisasi yang berujung pada tekornya neraca dagang selama Jokowi menjabat presiden selama empat setengah tahun terakhir.

Infrastruktur terkesan sebagai target akhir dan belum berfungsi sebagai target pengungkit industri. Buktinya, kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menukik (sebagai perbandingan kontribusinya sekitar 29% pada 2001, lalu 20,99% pada 2015, dan 19,86% pada 2018) dan pertumbuhannya (rata-rata 4,2%) selalu berada di bawah pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 5%.

Sebaliknya Prabowo-Sandi, meski masih terlalu normatif, lebih mengarah kepada permasalahan yang lebih substantif yaitu masalah kapasitas institusi untuk mengundang investasi dengan membangun iklim investasi yang kondusif dan kepastian berusaha. Prabowo-Sandi juga tampak jelas ingin memprioritaskan investasi yang berorientasi industri dan ekspor, demi menopang perekonomian ke depan yang masuk dalam jebakan 5% selama Jokowi menjadi presiden.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi juga tampak ingin menggelorakan investasi melalui pajak. Jokowi-Ma’ruf secara teoritikal membahas konsep makro dan mikro ekonomi, sementara Prabowo-Sandi lebih kontekstual dengan membahas pemotongan pajak.

Secara empiris, sebuah penelitian pada tahun 2010 telah mengungkapkan bahwa efek dari pemotongan pajak akan langsung berdampak terhadap konsumsi dan juga investasi (terutama investasi domestik) sehingga dapat menggeliatkan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian akan tercipta perluasan lapangan kerja formal sehingga pada masa depan, dengan diikuti dengan perluasan basis pajak dan reformasi pajak, rasio pajak bisa meningkat sesuai target.

Pemenang dari sesi ini: Prabowo-Sandi

Pasangan ini jauh lebih taktis dan strategis ketimbang petahana yang seharusnya bisa lebih menguasai masalah.

Baca Juga  Bastian: PLN Lalai!

Kualitas debat menurun

Martin Daniel Siyaranamual, Dosen dan Peneliti di Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran

Setelah mengikuti jalannya debat pamungkas tadi malam, secara pribadi, saya melihat bahwa terjadi penurunan kualitas yang signifikan dibandingkan dengan debat-debat sebelumnya.

Kedua kubu tidak mampu untuk mengelaborasi keterkaitan empat pokok bahasan yang ada baik pada saat penyampaian visi-misi maupun pada saat kedua calon saling melemparkan pertanyaan dan tanggapan.

Seharusnya kedua calon bisa memaparkan ide yang lebih komprehensif bagaimana peningkatan rasio pajak, khususnya dari pajak penghasilan, tidak hanya baik dari sisi penerimaan negara, akan tetapi juga baik untuk mengurangi ketimpangan ekonomi.

Lebih lanjut, saya melihat bahwa kedua calon memiliki pandangan yang serupa bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan kunci untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan.

Pandangan ini mendominasi kebijakan pertumbuhan ekonomi pada dekade 1970 dan 1980-an. Namun, pada dekade awal 1990-an, padangan ini mulai ditinggalkan.

Hasil penelitian Bank Dunia pada tahun 1996 menyatakan bahwa struktur yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi jauh lebih penting ketimbang hanya pertumbuhan ekonomi semata. Selain itu, hasil penelitian lainnya juga menyatakan dari bahwa pengurangan angka kemiskinan akan lebih sulit dilakukan ketika angka ketimpangan masih tinggi.

Jadi, seharusnya baik Jokowi maupun Prabowo tidak hanya memaparkan bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi dari melalui peningkatan investasi, proses industrialisasi, penggunaan teknologi, akan tetapi mereka juga seharusnya bisa menjelaskan program-program yang memastikan kue pertumbuhan ekonomi bisa terdistribusi dengan lebih baik.

Walaupun kualitas debat pamungkas ini di bawah harapan saya, akan tetapi untuk debat ini, penampilan Jokowi lebih baik dibanding Prabowo.

Pemenang dalam sesi ini: Jokowi-Ma’ruf

Alasan saya menyatakan hal ini karena pada sesi pertama, baik Prabowo dan Sandiaga praktis tidak memaparkan program kerja mereka. Jikalau ada program kerja yang disampaikan, program kerja tersebut adalah program kerja milik Sandiaga yang dirinya klaim berhasil diterapkan di DKI Jakarta ketika dirinya menjabat sebagai wakil gubernur. Akan tetapi menjadikan keberhasilan program di DKI Jakarta sebagai barometer untuk membawa program tersebut ke tingkat nasional bukanlah tindakan bijaksana karena ada perbedaan fundamental di banyak hal antara DKI Jakarta dan bukan DKI Jakarta.

Baca Juga  Representatif Dalam Demokrasi

Antara realita dan retorika

Trissia Wijaya, Peneliti kajian politik ekonomi, Kandidat doktor Murdoch University, Australia

Secara garis besar, ada dua hal yang dapat kita simpulkan dalam debat final kali ini.

Pertama, adanya ketidakseimbangan tingkat pemahaman yang sangat kontras antara pasangan Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandi. Dari jawaban yang dikemukakan Prabowo dan Sandiaga, mereka terlihat tidak begitu menguasai materi mengenai stabilitas harga komoditas dan inflasi, perkembangan industri digital.

Kedua, saya melihat solusi yang ditawarkan oleh Jokowi lebih realistis, inovatif. Salah satu idenya tentang pembentukan perusahaan induk bagi BUMN menunjukkan Jokowi menguasai permasalahan secara substansial.

Sedangkan Prabowo-Sandi masih menggunakan pendekatan konvensional seperti yang digunakan dalam debat sebelumnya. Kali ini, Prabowo-Sandi tetap menekankan agenda nasionalisme, menegasikan argumen Jokowi-Ma’ruf dengan data yang belum terverifikasi tanpa adanya solusi yang konkrit.

“Langkah salah, ekonomi ‘bocor’, swasembada pangan, kewirausahaan” tidak lain adalah retorika yang telah digadangkan sebelumnya. Hal ini menurunkan kualitas pasangan tersebut dalam debat kali ini.

Sebenarnya, ketimbang mengungkit retorika lama, Prabowo bisa tampil lebih baik seandainya isu deindustrialisasi yang dilontarkan pada sesi pertama dibahas lebih detail. Misalnya mereka bisa saja mengusung diversifikasi industri di Indonesia dalam menghadapi deindustrialisasi, meningkatkan daya saing pertanian, dan sebagainya.

Deindustrialisasi merupakan salah satu fase penting sekaligus tantangan terbesar dalam tahap perkembangan ekonomi yang umumnya dialami oleh sebagian besar negara berkembang, termasuk India dewasa ini.

Dalam debat ini, peran infrastruktur dalam menciptakan pemerataan ekonomi juga belum secara detail dibahas.

Pemenang dalam sesi ini: Jokowi–Ma’ruf

Solusi yang ditawarkan Jokowi lebih realistis, sedangkan Prabowo terjebak pada pendekatan yang konvensional dan retorika politik usang.

Martin Daniel Siyaranamual, Lecturer, Padjadjaran University; Febrio Kacaribu, Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia; Fithra Faisal, Research and Community Engagement Manager at Faculty of Economics, Universitas Indonesia, dan Trissia Wijaya, PhD candidate, Murdoch University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.