19.5 C
Aceh
Rabu, Juli 15, 2020

Bahasa Inggris dan Globalisasi

Populer

SMP Negeri 3 Banda Aceh Ganti Kepala Sekolah

Belumtitik.com - Kabid SMP Dinas Kota Banda Aceh Sulaiman Bakri, S.Pd, M.Pd mengharapkan para kepala sekolah menggunakan analisis SWOT dalam memimpin Sekolah,...

Mengapa Aceh (Tak) Mungkin Merdeka

Jika dihitung sejak perjanjian GAM dan Jakarta (2005), maka sudah 14 tahun Aceh gagal meraih kemerdekaan dari negara induk...

Eksistensi Ilmu Sosial-Politik dalam Pembangunan Kontemporer

Manusia merupakan lokus pembangunan. Stiglitz (2007) melihat bahwa pada dasarnya pembangunan harus mengacu pada transformasi kehidupan manusia, bukan sekedar transformasi ekonomi. Karena itu, manusia...

Aceh Ibu Kota Indonesia

Belumtitik.com -- Sekumpulan anak muda di Banda Aceh terlihat serius berdiskusi soal usulan pemindahan ibu kota. Jokowi dalam pernyataannya mengatakan bahwa pemindahan...
Dr. Darni M. Daud
mantan Rektor dan Professor Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh
Dr. Darni M. Daud

Belumtitik.com – Bahasa merupakan bagian integral dari lingkungan sosial. Dalam keseluruhan suatu bahasa, karena itu, secara dasariah memang berdimensi publik (Corcoran, 1979). Latar filosofi ini agaknya menginspirasikan Lakoff (1990) untuk menyatakan bahwa bahasa merupakan sarana atau bahkan politik itu sendiri.

Sedangkan bahasa politik mengandung euphemism, yaitu ungkapan yang bernuansa pertanyaan atau sitiran yang amat kultural, inconclusive, dan terkadang disengaja untuk mengaburkan makna (Herman, 1992).

Politik mengacu pada kekuasaan, dan dalam kekuasaan ada esensi yang mengatur atau menguasai bagaimana penguasa berbicara atau mendengar.

Bahasa Inggris sepertinya telah menjadi pembenar terhadap pernyataan tentang keterkaitannya dengan kekuasaan dan bagaimana ia dipakai dalam konteks interkultural di era global.

Herman (1992) secara detail melukiskan bagaimana doublespeak (penyalahgunaan kata dengan redefinisi secara implisit, penggunaan intonasi keras, kedengaran kejam atau halus, atau dalam bentuk manipulasi verbal lainnya) pada tataran global telah menjadi strategi propaganda yang dipakai politisi atau pemimpin organisasi bahkan negara modern kontemporer.

Intensitas penggunaan doublespeak dalam arena komunikasi lintas
budaya yang menggunakan bahasa Inggris meningkat cepat.

Komunikasi yang sebelumnya lebih dipagar tatanan (ketentuan, nilai, norma) negara-bangsa dalam hubungan dengan satu atau sejumlah yang lain (internasional) menjadi dinamika komunikasi yang semakin intens ditentukan oleh non-state actors (aktor non-negara) seperti perusahaan raksasa transnasional, intergovermental organizations (Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, dan lembaga swadaya masyarakat yang berjejaring lintas negara dan budaya, termasuk gerakan kaum perempuan, perdamaian, dan lingkungan).

Meningkatnya non-state actors ini, merujuk pemikiran Suter (2006), merupakan ciri utama globalisasi. Begitu drastis dan dramatis arus globalisasi mendominasi world networks (jejaring dunia) semakin memperkuat posisi bahasa Inggris sebagai bahasa global (Talbot, Atkinson, dan Atkinson, 2008).

Karena itu, suka atau tidak, adalah realita bahwa semua ini berimplikasi pada menguatnya global power yang harus disikapi dengan siaga agar mampu menghadapi realita dan dinamika yang berkembang.

Ini berarti bahwa kompetensi kita (dan semua yang ingin survive di era global) dalam berbagai bidang keilmuan dan teknologi, yang diperkuat dengan kapasitas soft skills (komunikasi, negosiasi, open-minded) termasuk penguasaan lintas budaya dimana bahasa Inggris sebagai kunci, merupakan sesuatu yang ”wajib” ditingkatkan kualitasnya.

Hanya dengan meningkatkan kompetensi dengan penguasaan soft skills (terutama penguasaan komunikasi dalam bahasa Inggris) yang memadai baru performance kita, khususnya akademisi dan politisi memiliki kepercayaan diri untuk tampil di panggung global.

Terbukti kini bahwa akademisi dan politisi yang tidak menguasai bahasa Inggris, sampai pada takaran penggunaan euphemism yang tepat sesuai dengan konteks dimana komunikasi berlangsung, sukar meraih sentra kekuasaan dan atau memiliki pengaruh global. Atau, paling tidak yang bersangkutan tidak dapat mencapai tujuan secara optimal, narrow-minded atau parochial, karena tidak mampu berkomunikasi langsung dengan menggunakan euphemism sebagai strategi bahasa global.

Atas dasar ini pula mengapa sampai hari ini, betapapun teknologi informasi dan komunikasi modern telah ada, karena begitu peliknya untuk mampu memasuki kawasan kultural-personal seseorang secara utuh, apalagi jika orang tersebut dari budaya beda, maka komunikasi face-to-face (langsung) baik untuk konteks akademik maupun politik masih masih saja dianggap efektif (Daud, 2000; Lilleker, 2007).

Sejauh ini, teknologi informasi dan komunikasi apapun yang telah diciptakan manusia, belum mampu menggantikan manusia yang menguasai bahasa dengan kepelikan lintas budaya penuturnya.

Sebenarnya kalau kita mempertanyakan teknologi apa yang mampu mengglobalisasikan dunia, tidak ada lain kecuali bahasa itu sendiri.

Memang bahasa dunia dapat berubah dari waktu ke waktu, bergantung pada kapasitas penuturnya. Bahasa Arab dan Latin pernah begitu kuat, tapi kini faktanya bahasa Inggris yang dominan.

Fenomena global dengan realita interkultural ini semakin nyata seiring dengan perjalanan waktu, dan karena itu berbicara pada konteks global di era kontemporer agaknya tidak ada pilihan lain kecuali mampu menguasai bahasa Inggris bukan sekedar untuk mengekspresikan makna superfisial tapi bagaimana menggunakan bahasa Inggris yang dapat menyentuh sanubari terdalam lawan bicara atau audience.

Dengan kata lain, komunikasi lintas budaya akademik dan politik di era global, membutuhkan penguasaan optimal bahasa Inggris yang semakin berfungsi sebagai alat komunikasi utama (Crystal, 2009).

Adalah realita bahwa tidak mungkin manusia menggunakan banyak
bahasa pada saat yang sama, dan agaknya ada kecendrungan kalau orang bakal terus merujuk pada bahasa yang memberikan kemudahan, yaitu bahasa Inggris, meskipun dengan variasi yang semakin kentara yang didasari fungsi atau eksistensi kultural, sosial, dan ideasional (Kachru & Smith, 2008).

Karena itu, ada yang melihat bahwa orang bakal tidak mampu memahami dunia meskipun berada dan hidup di sana jika tidak menguasai bahasa dunia: bahasa Inggris. Crystal (1996) melaporkan “English is the world language” dalam beberapa tahun terakhir telah muncul sebagai headline ratusan, bahkan ribuan, koran di dunia.

Bahasa Inggris menjadi berita, karena secara kontinyu membuat berita keseharian di pelbagai kawasan atau negara di dunia. Realita ini semakin meluas terutama dengan munculnya Internet, dimana bahasa Inggris bahasa utama yang dipakai berbagai kalangan sebagai sarana komunikasi (Daud, 2000).

Memang, suatu bahasa, seperti halnya bahasa Inggris, dapat mencapai status global jika mampu mengkonstruk peran tertentu yang diakui di setiap negara. Peran ini terlihat secara kasat mata di banyak negara yang mayoritas penduduknya menggunakan bahasa tersebut.

Untuk bahasa Inggris, secara khusus, amatilah dinamika dan perannya di Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Irlandia, Australia, New Zealand, Afrika Selatan, dan beberapa negara Karibia (Crystal, 1996; Crystal, 2009).

Apa yang membuat suatu bahasa menjadi bahasa global faktanya sedikit sekali dipengaruhi oleh berapa banyak penuturnya. Namun, eksistensi suatu bahasa jauh lebih signifikan ditentukan oleh siapa penuturnya.

Bahasa Latin menjadi bahasa internasional sepanjang sejarah kerajaan Romawi bukan karena penuturnya lebih banyak ketika itu, tapi realita tersebut terjadi karena penutur bahasa ini lebih kuat dan berkuasa. Begitu juga halnya dengan bahasa Inggris sekarang.

Jadi, ada hubungan yang erat antara dominasi bahasa dan kekuatan atau kekurangan yang dimiliki penuturnya. Tanpa basis kekuatan yang berarti, baik yang bersifat ilmu pengetahuan dan teknologi, politik, militer, atau ekonomi, tak bakal ada bahasa yang bisa mencapai posisi sebagai alat komunikasi internasional, apalagi global.

Bahasa, termasuk bahasa Inggris, tidak bereksistensi bebas, berada dalam ruang hampa terlepas dari pemakainya.

Crystal (1996) menyatakan bahwa bahasa eksistensi hanya dalam otak, mulut, telinga, tangan, dan mata pemakainya. Manakala penuturnya sukses pada tataran tertentu, bahasanya mengikuti. Sebaliknya jika pemakainya gagal, bahasanya pun lumpuh.

Inilah realita yang patut kita asosiasikan untuk menilik bahasa Inggris hari ini, juga untuk bahasa lainnya di dunia. Eksistensi bahasa, bahkan budaya pada umumnya, seperti dikemukakan Geertz (Goodenough, 1981) terletak pada otak manusia.

Maksudnya adalah sentra kekuatan masyarakat atau bangsa penutur suatu bahasa berpunca pada kapasitas intelektual yang dipunyai yang dapat diterjemahkan ke dalam bentuk kekuatan nyata seperti kekuatan politik, militer, ilmu pengetahuan dan teknologi, atau ekonomi. Masyarakat dunia tidak bakal tertarik untuk mempelajari suatu bahasa jika “pemilik” bahasa tersebut lemah dalam semua bidang.

Dari sini dapat dipahami bahwa munculnya bahasa Inggris sebagai bahasa global, dan meningkat eksistensinya dalam percaturan lintas budaya akademik dan politik, mempunyai latar historis yang panjang dengan sifatnya yang rasional (Maurais & Morris, 2005).

Otak dan pola pikir manusia, baik dalam bidang akademik maupun politik, selalu terkonstruk dari budaya yang terefleksikan dari bahasa sebagai alat komunikasinya.

Simpulan

Dari uraian di atas serta dua tulisan sebelumnya (  Bahasa Inggris Sebagai Alat Komunikasi Lintas Budaya Akademik dan Politik di Era Global dan Komunikasi Lintas Budaya Akademik dan Politik ) dapat disimpulkan bahwa bahasa Inggris memiliki peran yang semakin sentral dan menentukan dalam komunikasi lintas budaya akademik dan politik global di era kontemporer dan agaknya masih cukup lama dalam beberapa dekade mendatang.

Meningkatnya kuantitas dan kualitas komunikasi akademik dan politik dalam konteks budaya yang beragam di masa sekarang dan mendatang menjadikan peran bahasa Inggris jauh lebih penting dari sebelumnya.

Namun, dinamika peran yang meningkat drastis tidak dapat diharapkan hanya akan ada satu atau dua dialek saja yang dominan (Crystal, 1996; 2002; 2009). Yang terjadi adalah meningkatnya peran bahasa Inggris dalam konteks komunikasi lintas budaya akademik dan politik di era global bertambah pula variasi bahasa Inggris ke depan.

Kesemua variasi baik dalam bentuk dialek maupun dalam bentuk lain seperti creole, pidgin atau yang lain terkonstruk dari latar budaya, sosial, kreasi pemikiran penuturnya (Kachru & Smith, 2008).

Simpulan ini merupakan fenomena yang semakin menarik amatan para
akademisi dan politisi karena memiliki dinamika yang tinggi. Dunia ini terasa ”rutin” jika semua berjalan normal dan datar saja tanpa ada temuan, pemikiran, dan kreasi akademisi.

Bahasa akademisi (man of ideas) yang selalu menghiasi pemikiran baru menghidupkan dunia, memberikan pecerahan bagi kehidupan hari ini dan masa depan. Tapi, pattern pemikiran dan gaya hidup akademisi terasa sepi tanpa politisi yang menghiruk-pikukkan dunia.

Politisi dibutuhkan untuk membangun, mendorong dan menggalakkan gelombang kehidupan yang dapat mendorong kepada kemajuan.

Bahasa akademik dan bahasa politik memang beda, tapi keduanya dibutuhkan agar akademisi dan politisi dapat mengkomunikasikan pesan sesuai konteks dan maksud penuturnya.

Tentu saja, penyampaian pesan dalam konteks lintas budaya membutuhkan sensitivitas tersendiri. Kepekaan ini wajib dipunyai oleh siapa saja, bukan hanya akademisi dan politisi.

Esensi dari komunikasi lintas budaya sebenarnya menyadarkan penutur bahasa apa saja, termasuk bahasa Inggris, agar open-minded, tidak parochial. Mereka harus mampu melihat dari perspektif lawan bicaranya.

Memahami nilai kultural yang melekat pada bahasa yang dipelajari-gunakan merupakan kebutuhan mendasar dan menentukan bagi semua yang ingin sukses di era global.

Tanpa kepekaan ini, orang bakal tidak mampu merajut kehidupan di era global. Sebab, kemampuan merajut kehidupan ke depan ditentukan kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi, dan berasosiasi.

Semua ini merupakan spirit networking dimana bahasa Inggris semakin memainkan perannya meskipun dengan variasi dan dinamika yang semakin beragam.

Dr. Darni M. Daud
mantan Rektor dan Professor Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh
- Advertisement -

Artikel Terkini

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk kita dilirik secara awam dan...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Fitrah Manusia

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum yang menjelaskan tentang fitrah umat manusia yang diciptakannya.    فَاَقِمْ وَجْهَكَ...
- Advertisement -

Artikel Lain

- Advertisement -