Apa yang Terjadi Ketika Dunia Kehabisan Makanan

57
Sumber foto: Yukepo

Belumtitik.com – Masyarakat kita yang modern makin bergantung pada rantai makanan yang panjang dan rumit. Bagaimana cara kita bertahan jika tiba-tiba rantai makanan ini runtuh?

Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Rešad Trbonja adalah seorang remaja biasa yang tumbuh di kota modern yang berkembang pesat. Beberapa tahun sebelumnya, kota itu menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin. Kemudian pada 5 April 1992, tempat yang dia sebut rumah tiba-tiba terputus dari dunia luar.

Dia dan hampir 400.000 penduduk lainnya yang “dikurung” di dalam Sarajevo oleh Tentara Serbia Bosnia, tidak menyangka bahwa itu adalah awal dari mimpi buruk yang akan berlangsung selama hampir empat tahun.

Pada saat pengepungan Sarajevo, penduduk biasa yang terperangkap di dalam kota menjalani hidup mereka setiap hari di tengah dentuman artileri dan suara senapan sniper.

Sekadar menyeberang jalan atau mengantre roti pun bisa menjadi pengalaman yang mengancam jiwa. Para tentara di bukit-bukit sekitar kota sering tiba-tiba menembaki penduduk setempat.

Tetapi sementara peluru dan mortar yang ditembakkan ke kota mereka adalah ancaman tak terelakkan, Trbonja dan tetangganya menghadapi musuh dalam selimut yang lebih tenang: kelaparan.

“Makanan dengan cepat mulai habis,” kata Trbonja, yang saat itu berusia 19 tahun dan sekarang mengajar anak-anak sekolah tentang perang di Bosnia.

“Sedikit makanan yang ada di toko-toko pun habis dengan cepat dan banyak toko dijarah. Lemari dan kulkas di rumah tidak dapat menampung banyak. Ketika harus memberi makan seluruh keluarga, maka tak lama kemudian semua makanan habis. “

Pada saat pengepungan berakhir pada Januari 1996, lebih dari 11.500 orang di Sarajevo tewas. Banyak yang mati dalam hujan ledakan dan peluru yang menghantam mereka, tetapi hampir dapat dipastikan bahwa sebagian orang mati juga mati karena kedinginan (gas dan listrik terputus) dan kelaparan.

Baca Juga  Menggunakan Telepon di Pesawat Aman, Tapi Anda Tak Boleh Menelepon, Mengapa?

Tetapi Trbonja ingat bahwa terlepas dari kematian dan kehancuran yang tak henti-hentinya, rakyat Sarajevo menunjukkan ketangguhan yang luar biasa.

“Orang-orang di daerah pinggiran kota yang punya kebun akan menanam sayuran, yang kemudian dibagikan,” kata Trbonja.

“Mereka akan memberikan benih kepada tetangga, sehingga yang lain pun bisa menanam sayuran di kotak bunga di balkon. Rasa tomat yang ditanam di balkon Anda sendiri itu sangat indah.”

Sementara komunitas internasional ragu-ragu soal bagaimana cara campur tangan dalam perang yang makin membara di Bosnia, pasukan Kanada yang menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian PBB berhasil membuka kembali bandara Sarajevo.

Itu adalah langkah penting. Sepanjang pengepungan, lebih dari 12.000 penerbangan bantuan kemanusiaan PBB mendatangkan 160.000 ton makanan, obat-obatan dan barang-barang lainnya.

“Tanpa bantuan kemanusiaan, Sarajevo tidak akan ada lagi,” kata Trbonja. “Sembilan puluh persen populasi hidup dari makanan yang didistribusikan oleh PBB. Mereka yang sangat kaya bisa menukar perhiasan, lukisan, barang berharga, dengan makanan tambahan di pasar gelap. “

Mereka yang tidak memiliki apa pun untuk ditukar, perlu cara lain untuk menambah jatah makanan mereka yang sangat sedikit.

Trbonja, seperti banyak pria muda di Sarajevo, turut angkat senjata dalam upaya putus asa untuk mempertahankan keluarga dan rumahnya. Pulang dari pertempuran, dia akan mampir ke rumah sakit kota untuk mendonorkan darahnya. Sebagai gantinya, dia akan menerima sekaleng daging sapi.

“Kami juga harus menemukan cara lain,” katanya. “Kami membuka buku-buku untuk mencari tahu tanaman apa yang bisa dimakan, sehingga kami bisa membuat salad dari bunga. Ada hari-hari di mana kami hanya punya sepotong roti dan teh untuk bertahan seharian, dan kadang benar-benar tidak ada apa-apa. Kami benar-benar mengalami masa bertahan hidup yang sebenarnya.”

Baca Juga  Merasa Diintai? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Saat bicara dengan Trbonja, rasanya sulit untuk percaya bahwa kisah ini terjadi di jantung Eropa, kurang dari 30 tahun yang lalu. Tetapi kisah-kisah seperti ini juga belum dimasukkan ke dalam sejarah.