Apa Kabar Kasus Novel Baswedan

16
Dok. Thejakartapost

Belumtitik.com – Memasuki 700 hari kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, kepolisian masih belum bisa mengungkap dalang di balik peristiwa tersebut.

Anggota DPR Fraksi Partai Demokrat Irma Suryani menyatakan pihaknya kecewa terhadap kinerja kepolisian yang belum berhasil mengungkap kasus tersebut.

“Dari dulu kita menuntut itu tapi sampai sekarang belum ada hasil. Kami Fraksi Demokrat terus terang kecewa dengan pihak kepolisian karena belum bisa mengungkap dan menemukan siapa pelakunya,” ucap Irma di Komplek Parlemen, Jakarta, Selasa (12/3).

Wakil Ketua Komisi III DPR ini melihat Presiden Joko Widodo belum memiliki kesungguhan dalam menyelesaikan kasus ini.

“Jadi kita meminta agar dengan semua potensi yang ada, Pak Presiden menggerakkan kepolisian untuk bisa mencari siapa sesungguhnya pelaku penyiraman air keras terhadap Pak Novel Baswedan,” ungkapnya.

Pasalnya sudah hampir dua tahun atau genap 700 hari pada hari ini, kasus ini belum menemukan titik terang. Irma terus meminta kepada Presiden agar punya komitmen dalam upaya ini.

“Kami dari Demokrat meminta kepada Presiden sebagai tanda kesungguhannya karena hampir 2 tahun, prosesnya belum selesai,” tandasnya.

Kasus ini belum menemukan titik terang sejak penyidik senior KPK itu disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017.

Novel Baswedan diserang dua orang tak dikenal sepulang dari salat subuh berjamaah di Masjid Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kedua orang yang berboncengan dengan sepeda motor itu dengan sengaja menyiramkan air keras ke wajah penyidik yang banyak mengusut kasus korupsi besar ini.

Akibatnya, dua mata Novel terancam buta. Mata kiri novel rusak hingga 95 persen. Novel harus menjalani operasi berkali-kali di Singapura.

Baca Juga  MOI Targetkan 1000 Media Online Berbadan Hukum Akhir 2019

Sehari sejak Novel diserang, KPK meminta Presiden Joko Widodo membentuk tim gabungan untuk mengusut perkara ini. Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas meminta Jokowi langsung membentuk tim gabungan untuk mengusut penyerang Novel. “Presiden harus turun tangan langsung membentuk tim gabungan dari unsur Polri, NGO, dan kampus,” kata Busyro, 12 April 2017.

Desakan juga datang dari Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Fakultas Hukum Universitas Andalas yang mendesak Jokowi turun tangan. “Secara konstitusional, Presiden bertanggung jawab memberikan keamanan kepada seluruh warga, apalagi aparat penegak hukum,” ujar peneliti Pusako, Feri Amsari dua tahun lalu.

Wadah Pegawai KPK dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pun mendesak Jokowi membentuk tim independen karena informasi tentang penyerangan ini sudah banyak sehingga tergantung polisi akan membongkar kasus ini atau tidak. “Kalau tidak ada niat ke sana, maka sebaiknya dibentuk tim independen. Kasus teror ini harus tuntas,” kata Haris Azhar dari Kontras.

Hingga hari pihak kepolisian belum mampu mengungkap siapa pelaku. Berbagai elemen bangsa kembali mempertanyakan komitemen kepolisian maupun Jokowi dalam penyelesaian kasus Novel Baswedan.