Adakah Tuhan dalam Partikel Tuhan?

161
Dok. livescience.com

Belumtitik.com – Pada 2012, Stephen Hawking sang fisikawan jenius kalah taruhan 100 USD karena ditemukannya boson Higgs. Begitu menakutkannya penemuan ini, media menyebut partikel itu sebagai partikel Tuhan. Lema Partikel Tuhan bahkan lebih banyak diperbincangkan dalam kehidupan awam ketimbang esensi dari potensi partikel itu sendiri.

Kaum agama pastilah gentar dengan penemuan dengan diksi menyangkut hal teologi. Banyak pendapat konyol tentang maksud peneliti menyebut partikel itu sebagai partikel Tuhan. Dianggapnya, itu adalah sebuah partikel yang disebut Tuhan oleh para penganut agama.

Padahal, kata “Tuhan” itu hanya karena sensor dalam artikel ilmiah pada penemuan partikel paling fenomenal itu. Dibalik pentingnya penemuan partikel ini, karena memang partikel ini dicurigai sebagai aktor kunci terbentuknya alam semesta, namun yang terjadi malah perdebatan agama.

Mungkin ilmuwan harus bersyukur karena ini menjadi semacam clikbait bagi orang-orang yang tidak tertarik pada dunia sains. Mereka sibuk membicarakan dan memperdebatkan agama, kini harus terperangkap dalam obrolan sains tingkat serius. Meskipun, bisa ditebak, banyak yang terjebak memahami bahwa partikel ini dianggap sebagai Tuhan itu sendiri.

Selama ini, memang banyak benturan argumen yang terjadi antara teori sains ilmiah modern dengan kitab suci berbagai agama, terutama agama samawi. 

Entah karena tafsir yang keliru, atau memang karena agama tak relevan lagi, atau karena penemuan manusia yang belum selesai sehingga seolah tidak sesuai dengan dalil-dalil agama. Bahkan, karena itu, banyak yang menganggap bahwa dogma agama tidak bisa diadu dengan logika ilmiah.

Peter Higgs, sang peletak dasar teori ini pun sebenarnya menolak penggunaan kata Tuhan dalam partikel temuannya. Dia yang memang ateis, enggan bermain-main dengan kata Tuhan. Jadi, memang bahwa penamaan itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan nuansa keagamaan. 

Tapi ya beginilah kehidupan sosial kita, semua dicampuradukkan dengan tanpa batas pemahaman yang jelas. Beberapa tempat diskusi populer di forum internet, tidak menunjukkan diskusi yang selaras dengan hasil penelitian. Mau sampai kapan kita terperangkap dalam hal-hal dogmatis?

Baca Juga  Merasa Diintai? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Yang Lebih Penting untuk Dibahas

Teori ledakan besar alias Big Bang tanpa adanya kemungkinan menciptakan massa adalah tidak mungkin. Penemuan boson Higgs menjawab kekosongan itu. Satu-satunya yang bisa menjelaskan bagaimana massa terbentuk adalah teori partikel Higgs ini.

Selain diduga adalah pemantik awal adanya alam semesta, dikhawatirkan jika ada partikel ini dalam tenaga yang besar, juga akan menjadi akhir dari alam semesta yang ada saat ini.

Partikel Higgs ini memiliki potensi untuk menghancurkan dunia karena tumbukan semesta lama dengan semesta baru. Apakah kiamat bisa terjadi karena manusia bisa menciptakan partikel Tuhan yang kuat dan akhirnya tidak terkontrol? 

Ketakutan itu muncul dengan bantuan pendapat pesohor fisika Stephen Hawking. Penemuan atas partikel Tuhan dikomentari sinis dan skeptik oleh Hawking, dia menyebut bahwa fisika lebih seru jika partikel itu tidak ditemukan. Dia menyebut dalam suatu kesempatan, bahwa partikel tuhan dapat menghapus alam semesta yang kini kita tempati.

Partikel dianggap sebagai awal dari semesta karena dia bisa menjawab pertanyaan siapa yang menyebabkan adanya massa dan volum dari benda. Nyatanya, partikel yang ditemukan di 2012 itu mampu menciptakan massa 133 kali dari massa proton. 

Padahal, partikel itu hanya didapat dari tabrakan dua  proton berkecepatan tinggi. Bayangkan jika suatu saat terjadi massa yang lebih besar dari itu dan sifatnya tidak stabil sehingga menciptakan benda bermassa besar. Jika ada benda bermassa besar lalu memiliki grafitasi tinggi, maka akan tercipta penciptaan yang baru. Awal dari semesta baru sekaligus akhir dari peradaban alam lama.

Meski baru ditemukan wujudnya pada 2012, teori kunci penemuan ini sudah muncul beberapa dekade sebelumnya. Para ilmuwan di Large Hadron Collider yang didirikan oleh organisasi penelitian nuklir Eropa (CERN) berpijak pada teori fisikawan Peter Higgs, seorang Inggris, yang dikemukakan pada tahun 1960-an.

Baca Juga  Tiga aspek literasi digital: mengapa ponsel membuat Anda sulit fokus

Kabar baiknya, ada pendapat ilmuan yang membuat kita sedikit merasa lega. Potensi untuk membuat kiamat segera karena penciptaan partikel ini masih jauh sekali dari kemungkinan. 

Nikolas Solomey, Direktur Kajian Fisika Universitas Negeri Wichita, mengatakan bahwa untuk menciptakan partikel Higgs yang sanggup untuk menimbulkankerusakan yang serius membutuhkan tenaga yang sangat-sangat besar.

Agama dan Sains

Kita harus mengakui bahwa karena suatu nama, maka perhatian bisa muncul di luar nalar. Sebenarnya, ketika partikel Higgs ini diberi nama dengan kata Tuhan, itu bisa menjadi pemicu bagaimana orang semakin tertarik akan penemuan penting ini. 

Meskipun, pada dasarnya ekses buruk terjadi. Seolah kena ”clickbait”, kaum agama kerap mendiskusikan ini tanpa mengerti asal-usul nama itu sendiri.

Jika kita kembali kepada apa definisi Tuhan dalam perkuliahan semester-semester awal, Tuhan adalah sesuatu yang kita pentingkan dalam kehidupan. Penemuan-penemuan besar bisa saja menjadikan kita semakin meyakini adanya Tuhan, atau bahkan semakin menjauhkannya dari-Nya. 

Ada pepatah anonim yang menyatakan bahwa sains tidak begitu serius membuktikan adanya Tuhan atau tidak. Soal keyakinan sang ilmuwan terhadap konsep ketuhanan, itu tidak boleh berpengaruh pada metode ilmiah.

Sebenarnya, lema God dalam kata God Particle ini awalnya adalah Goddamn Particle. Oleh editor diubah menjadi God Particle karena kata goddamn tidak layak masuk dalam terbitan. Kenapa penemunya mengatakan bahwa partikel ini adalah partikel sialan atau terkutuk?

Tidak lain dan tidak bukan hanya karena partikel ini sangat sulit ditemukan hingga mereka berpusing ria dalam mencarinya. Bagaimana? Adakah Tuhan dalam Partikel Tuhan?

Yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah, adakah sains dalam perbincangan agama kita hari ini?

Penulis Nurhidayat Anung