19.5 C
Aceh
Rabu, Juli 15, 2020

22 Ramadan

“Aku (Allah swt) adalah seperti yang diprasangkakan hamba-hamba-Ku,”

Populer

SMP Negeri 3 Banda Aceh Ganti Kepala Sekolah

Belumtitik.com - Kabid SMP Dinas Kota Banda Aceh Sulaiman Bakri, S.Pd, M.Pd mengharapkan para kepala sekolah menggunakan analisis SWOT dalam memimpin Sekolah,...

Mengapa Aceh (Tak) Mungkin Merdeka

Jika dihitung sejak perjanjian GAM dan Jakarta (2005), maka sudah 14 tahun Aceh gagal meraih kemerdekaan dari negara induk...

Eksistensi Ilmu Sosial-Politik dalam Pembangunan Kontemporer

Manusia merupakan lokus pembangunan. Stiglitz (2007) melihat bahwa pada dasarnya pembangunan harus mengacu pada transformasi kehidupan manusia, bukan sekedar transformasi ekonomi. Karena itu, manusia...

Aceh Ibu Kota Indonesia

Belumtitik.com -- Sekumpulan anak muda di Banda Aceh terlihat serius berdiskusi soal usulan pemindahan ibu kota. Jokowi dalam pernyataannya mengatakan bahwa pemindahan...
Nurcholish Madjid
Ketua Umum PB HMI Dua Periode (1967-1969 dan 1969-1971), Cendekiawan Muslim, Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan sebagai Rektor Universitas Paramadina, sampai dengan wafatnya pada tahun 2005.
ilustrasi/net

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri, mereka mengingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mangampuni dosa selain daripada Allah?,” (Q 3:135).

Sepanjang bulan puasa, orang beriman dianjurkan memperbanyak ibadat seperti qiyâm al-layl, shalat malam, tadarus, menelaah dan merenungkan Alquran serta iktikaf.

Amalan-amalan tersebut sesungguhnya merupakan spiritual exercise, pelatihan ruhaniah yang sangat baik dalam rangka meningkatkan kesadaran ketuhanan, sebagaimana bunyi hadis Rasulullah yang sering kita dengar, “Barang siapa menjalankan puasa dengan penuh keimanan dan melakukan penghitungan terhadap diri, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Suasana bulan puasa yang dipenuhi oleh pelatihan tersebut di sisi lain menjadi momen yang sangat berarti dalam mempertajam kesadaran ketuhanan atau takwa. Dengan demikan, bulan puasa sangat kondusif sebagai bulan untuk melakukan tobat.

Dari hadis di atas, bila diperhatikan dapat ditarik sebuah analogi bahwa ibadat puasa pada substansinya identik dengan praktik tobat. Substansi dan muaranya sama, yakni memohon ampunan atas dosa-dosa yang pernah diperbuat pada masa lalu.

Dan perlu diingatkan kembali berkenaan dengan pengertian perbuatan dosa bahwa dosa adalah semua perbuatan yang dalam jangka pendek menyenangkan, namun dalam jangka panjang membawa penderitaan.

Seseorang melakukan dosa bisa jadi karena ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu atau ketidakmampuan mengontrol kesadaran diri.

Bertobat adalah salah satu ciri orang beriman apabila sadar dirinya telah tergelincir dalam perbuatan keji atau dosa, seperti yang diilustrasikan dalam Alquran:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri, mereka mengingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?,” (Q 3:135).

Kata tobat (tawbah) dalam bahasa Arab terdiri dari huruf ta-wa-ba yang dalam bahasa Indonesia tobat dalam keseharian seperti yang sering kita dengar berarti kapok.

Namun, dalam bahasa Arab, kata itu mengandung pengertian penggambaran sebuah aktivitas, sebuah gerak kembali kepada asal. Pengertian tersebut dapat dilihat dalam sebuah ayat yang berbunyi, “Dan orang-orang yang menjauhi thâghût (yaitu) tidak menyembah, dan kembali kepada Allah …,” (Q 39:17).

Yang dimaksudkan dengan gerak kembali kepada asal adalah gerak kepada kesucian asal, fitri. Gerak itu didorong oleh adanya sebuah kesadaran diri karena ketidakmampuan diri dalam menghadapi atau menyelesaikan persoalan atau masalah.

Gerakan serupa merupakan dorongan dari fitrah manusia yang disebut hanîf. Dorongan hanîf adalah dorongan yang selalu mengajak manusia untuk mencintai kebajikan sebagai nature atau fitrahnya. Dorongan hanîf bersumber pada hati nurani.

Fitrah atau nature tersebut tidak akan pernah berubah atau perenial, seperti yang diilustrasikan dalam Alquran,

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrahnya itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah …,” (Q 30:30).

Dari situ dapat dianalogikan bahwa hakikat tobat adalah melakukan aktivitas yang natural atau alamiah, yakni gerak kembali kepada asal (Allah) sebagai pencipta dan sumber kesucian.

Bertobat dalam pengertiannya yang sungguh-sungguh haruslah diiringi oleh kesadaran diri. Dalam bahasa Arab, tobat yang demikian dinamakan tobat nasuha (nashûh-an).

Tobat nasuha adalah tobat yang dibarengi oleh kejujuran dan ketulusan sehingga setelah bertobat ia tidak akan kembali kepada perbuatan dosa lagi.

Ada beberapa fase atau tahap untuk dapat mencapai derajat tobat nasuha. Yang pertama-tama adalah seseorang terlebih dahulu melakukan pelatihan-pelatihan persiapan secara ruhaniah atau preconditioning.

Selain itu, seseorang juga harus terlebih dahulu menyadari bahwa dirinya melakukan perbuatan dosa dan dirinya sudah tidak mampu lagi sehingga ia menyerahkan (pasrah) diri kepada Allah swt.

Di sini, makna tobat menjadi paralel dengan Islam yang arti generiknya adalah pasrah. Di samping itu, seseorang harus memiliki hati yang bersih.

Hati yang tidak diliputi oleh polusi akibat pretensi atau embel-embel kesucian, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw lewat sebuah hadisnya, “Sebaik-baik zuhud adalah menyembunyikan zuhud”.

Dengan kata lain, sebelum melakukan tobat, seseorang terlebih dahulu harus menyucikan dirinya, menjauhkan diri dari rasa tinggi hati, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Meskipun sudah dijanjikan baginya surga dan ampunan dari Tuhan, beliau terus memperbanyak tobat, khususnya sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadis, “Beliau (Rasulullah) memperbanyak ibadat dengan iktikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan puasa”.

Adapun sikap yang lain adalah harus ada optimisme pada diri bahwa setelah menyadari dengan segala kejujuran dan ketulusan dirinya telah terjerumus dalam perbuatan dosa, ia berjanji tidak mengulangi lagi.

Sikap ini tentu saja harus dibarengi sikap rendah hati. Kalau tidak, sulit rasanya melakukan koreksi diri. Dan yang terjadi justru malah sebaliknya, seperti yang diungkapkan dalam pepatah melayu yang berbunyi, “Semut di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak tampak”.

Sikap optimis yang dimaksudkan di sini adalah prasangka positif terhadap Tuhan. Ia yakin bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya, sebagaimana dalam hadis Rasulullah diterangkan bahwa orang beriman harus berprasangka positif atau baik (husn al-zhann) terhadap Allah.

Karena Allah swt akan bertindak sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Ini seperti yang diriwayatkan, “Aku (Allah swt) adalah seperti yang diprasangkakan hamba-hamba-Ku,” (hadis qudsi).

Sikap gemar bertobat adalah salah satu ciri orang beriman, dan sebaliknya sikap tidak mau bertobat adalah salah satu sifat orang kafir.

Sikap yang demikian itu sering kita dengar dalam idiom bahasa Indonesia yang sangat populer, “sesal dulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”.

Sifat itu dalam Alquran digambarkan sebagai sikap orang-orang zalim dan mereka adalah orang-orang yang merugi di akhirat kelak, seperti yang difirmankan dalam al-Qur’an, “… lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat …’,” (Q 63:107).

Adapun amalan saat menjalankan tobat biasanya memperbanyak tasbih, yakni menyucikan Tuhan, subhân-a ’l-Lâh karena selama itu diasumsikan kita telah berprasangka buruk terhadap Tuhan. Kemudian, kita memperbanyak istighfar atau memohon ampunan, astaghfir-u ’l-Lâh-a ’l-azhîm atas kesalahan tersebut.

Sekali lagi, bertobat sebagaimana dikatakan di awal tadi, amat tepat dilakukan pada bulan puasa karena selama bulan puasa, hati nurani dalam kondisi sangat sensitif dan responsif untuk menerima kesadaran kehadiran Tuhan.

Hal itu diperkuat oleh anjuran agar memperbanyak ibadat sepanjang bulan puasa sebagai bulan ampunan. Dengan begitu, bulan puasa pun dengan sendirinya identik dengan bulan tobat.

Hal itu dikarenakan sepanjang bulan puasa kita dianjurkan untuk memohon ampunan dengan memperbanyak iktikaf. Bangun malam sangat dianjurkan dalam menjalani tobat.

Karena pada malam hari, saat manusia yang lain tidur, kita berada dalam keheningan dan kesendirian, sehingga yang ada hanyalah kita dan Allah swt.

Bahkan pada malam bulan puasa, khususnya bertepatan dengan datangnya malam kepastian, Lailatul Qadar, diisyaratkan para malaikat turun ke bumi.

Suasana semacam itu sudah pasti akan sangat kondusif untuk dapat menyadarkan diri, yang pada gilirannya, apabila kita sudah dapat menyadari diri kita sendiri, kita akan dapat menyadari kehadiran Tuhan, sebagaimana dalam kalangan sufi dikenal istilah, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya”.

Di sisi lain, tobat juga merupakan refleksi sikap positif bagi orang yang membuat kesalahan atau dosa. Tobat juga dapat menjadi sikap produktif karena dengan menyadari dirinya telah terperosok dalam kesalahan, ia kemudian akan berusaha membenahi diri dan berupaya tidak mengulangi berbuat kesalahan atau dosa.

Tobat yang di dalamnya terkandung amalan purification atau dalam bahasa sufi tazkîyah (pembersihan atau penyucian diri), dengan sendirinya akan dapat menjadikan dirinya lebih optimistis karena selalu berpengharapan baik kepada Allah Swt.

Sebaliknya, sikap tidak mau bertobat atau tidak pernah mau mengakui dan menyadari dirinya salah atau berbuat salah adalah sikap yang dapat menghancurkan dirinya atau counter-productive.

Sikap tersebut dapat mengarah pada munculnya sikap menyalahkan diri self-blaming, atau yang lebih parah lagi mencari kambing hitam, adanya pihak yang dituduh menjadi penyebab kesalahan.

Bila sikap-sikap seperti self-blaming tersebut sudah tidak dapat lagi dikontrol, yang akan muncul adalah sikap frustrasi atau putus asa, putus pengharapan. Dan ini sangat berbahaya dan fatal.

Sikap putus asa adalah sebuah sikap yang oleh Alquran diperintahkan agar dijauhi oleh seorang beriman karena dapat mengarah kepada syirik, seperti lahirnya anggapan bahwa Tuhan tidak mampu mengubah nasib dia.

Sikap-sikap tersebut dapat melahirkan prasangka buruk terhadap Allah swt sebagaimana disebutkan dalam Alquran, “… Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat,” (Q 15:56).

Tobat yang dilakukan tanpa kejujuran dan ketulusan, sesungguhnya merupakan perbuatan membohongi diri dan akan merugikan dirinya sendiri.

Karena amal perbuatan yang baik atau yang jahat pada hakikatnya akan kembali kepada diri kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Nurcholish Madjid
Ketua Umum PB HMI Dua Periode (1967-1969 dan 1969-1971), Cendekiawan Muslim, Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dan sebagai Rektor Universitas Paramadina, sampai dengan wafatnya pada tahun 2005.
- Advertisement -

Artikel Terkini

Salat Bukan Agama

Ketika perdebatan yang dilakukan oleh para ilmuwan, budayawan, sastrawan, wartawan, hingga agamawan. Pada akhir-akhir ini, menarik untuk kita dilirik secara awam dan...

Selama Pandemi Corona, Yang Kaya Menjadi Makin Kaya

Belumtitik.com - Ketika menyerang, virus corona tidak mengenal kaya-miskin, semua kalangan bisa terinfeksi. Tapi dampak ekonominya berbeda. Selama krisis corona, mereka yang...

Sains, Filsafat, Agama

Perdebatan “menghadap-hadapkan” agama, filsafat, dan sains sebagai semacam “perselisihan paradigma” berisiko menghadapi problem trilema (dilema namun menyangkut tiga aspek).

Fadli Zon Ingatkan Jokowi Soal Utang BUMN

Belumtitik.com - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menilai ada tiga kondisi fundamental yang memicu terjadinya krisis finansial pada tahun 1997/1998,...

Fitrah Manusia

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum yang menjelaskan tentang fitrah umat manusia yang diciptakannya.    فَاَقِمْ وَجْهَكَ...
- Advertisement -

Artikel Lain

- Advertisement -